Skripsi, Erupsi, dan Profesi di Bulan Februari (Part 1)

Senin, 25 Oktober 2010

Suatu pagi, pagi yang tidak seperti pagi pagi biasanya, pagi ini adalah hari pertama dimulai penelitian untuk skripsi. Ketika sedang siap siap akan berangkat ngampus, tiba tiba nada sms hapeku berbunyi. “Ah si Kiwil ternyata”, lantas kubuka kotak masuknya (sebenernya aku suka bales dendam sama orang yang lama bales smsnya,hehe, tapi entah mengapa kali ini pengen langsung aku  buka),  “Gam, status Merapi awas, sepertinya kita perlu rapat Pagi ini deh,”. Hmm… Sebenarnya aku kurang faham apa yang dimaksud status “Awas” seperti yang dikabarkan  si kiwil itu. Hanya saja beberapa waktu lalu, kira kira seminggu setelah lebaran, dia pernah ngomong serius untuk minta dana ke BSMI pusat guna persiapan  Merapi yang kembali aktif.  Waktu itu fikirku, “ah paling demam bentar kayak biasanya, paling ntar adem sendiri deh.”

— Hening — “Barangkali ini memang serius”. tapi bagaimana dengan penelitianku? seharusnya ini adalah hari pertamaku Ngelab skripsi. Hari ini adalah hari yang kutunggu tunggu setelah sekitar lima bulan lamanya. Cukup lama untuk dikategorikan menunggu. Sebenarnya aku sudah menggarap proposal skripsi itu sejak Januari 2010 bahkan sejak sebelumnya. Tepatnya saat mengemban amanah di lembaga ekstra kampus. Ya, organisasi yang  bisa dibilang  turut andil membesarkan dan mewarnai perilaku dan cara berfikirku. Memang sudah sesuai rencana ketika akhir April 2010  berakhir dan selesai pula LPJ di organisasi itu maka saat itu pula saat pertama aku di Lab. Sudah kupersiapkan segalanya termasuk izin yang sudah didapatkan dari dosen pembimbingku. Kecuali satu, yaitu obat yang nantinya akan dianalisis.

Sudah sekitar lima bulan aku mencari dan “nginden” obat sintetik berderajat analisis itu. Barangkali obat ini juga yang membuat aku terlambat tidak bisa wisuda di bulan agustus atau november, fikirku dulu.  Rasanya aku sudah buat orang tuaku kecewa karena terlambat lulus. Meskipun aku juga tahu bapak dan ibuku tidak telalu banyak memberikan tuntutan ke anak anaknya. Ibuku tidak pernah menuntut supaya anaknya menjadi bla bla bla, pesanya hanya singkat. “Bersyukur yo le, wes diparingi kemudahan Gusti Allah, sholate sing rajin, syukur bisa di mesjid terus.” Sederhana. Tidak terlalu banyak tuntutan.

Ah.. Sudahlah, ini cuma sehari menundanya. Rasanya tidak terlalu signifikan. Lagipula aku juga sudah menyusun jadwal dengan rigid hingga persiapan jika mendapatkan data yang kurang baik. Insyalloh tidak akan terlambat untuk Wisuda dan  pastinya Profesi di Bulan Februari. Disekitarku juga masih banyak teman teman yang masih berjuang dengan skripsinya. Si Munir dan PITAM nya (Puguh, Izza, Tanjung, Ajun, dan Munir (sudah disebut)  juga masih mengulang ngulang menyintesis obat hampir setengah taun lamanya. Wow, semangat sekali mereka. Begitu pula kelompoknya Anis, Niar, dan Ovi yang kabarnya juga “mengulang-ulang” data penelitiannya yang belum bagus (juga sudah lama sepertinya). Ataupun si Udin yang sangat kesulitan ketemu dengan dosen pembimbingnya yang “tidak kebetulan” adalah Dekan Fakultas yaitu Pak Ban. Atau cerita si Niken yang harus mengganti judul skripsinya dan harus mulai dari awal lagi karena sesuatu hal…. siapa lagi ya ? Fathur, Hanif? yang agak tersendat skripsinya? Barangkali tidak semua penuh dengan aral rintangan seperti itu. Mungkin disitulah nilai perjuangannya.

Kembali ke SMS tadi, akhirnya ku follow up SMS itu dengan cara klasik yang biasa dilakukan. Yaitu menjemput si Kiwil (singkat cerita si kiwil ini secara emang engga bisa naek motor karen faktor X  dan Y) ……..

Pasca Rapat atau bisalah disebut syuro, kesepakatannya adalah  akan segera melakukan assessment ke daerah yang nanti akan kita buat sebagai posko kesehatan. Barak pengungsian yang kemudian kita tuju adalah di desa Kepuharjo.Satu dari sekian banyak barak yang ada di sekitar Cangkringan.

Kami berangkat menjelang maghrib berbekal kontak dengan salah satu kenalan dr.Siswanto di RS PKU Muhammadiyah cangkringan (kalo g salah inget). Kami berangkat bertujuh menggunakan sebuah mobil dan melakukan observasi dan koordinasi dengan pihak setempat termasuk Pak Lurah Kepuharjo. Pada prinsipnya kami boleh mendirikan posko kesehatan yang nantinya akan diisi kebutuhan pengobatan pasien dan akan ada dokter, perawat, dan apoteker yang bertugas di sana. Sekitar Pukul 23.00 WIB kita turun dari cangkringan ke kota setelah merasa cukup mendapatkan informasi..

Selasa, 26 Oktober 2010.

 Bersambung…

Barak Pengungsian Kepuharjo 25 Oktober 2010, pukul 22.00WIB
 

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

2 thoughts on “Skripsi, Erupsi, dan Profesi di Bulan Februari (Part 1)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s