Demam Korea, Park Chung Hee, dan Makna Sebuah Ayat

Suatu sore ketika saya sedang kuliah di dalam kelas, tampak teman sebelah saya sedang berdiskusi dengan teman yang ada di sebelahnya lagi. Usut punya usut ternyata dia sedang memberikan “sedikit” bimbingan tentang huruf huruf atau bisa dibilang bahasa Korea. Astaga, ternyata “demam korea”(yang juga dialami kedua adik saya) sudah sampai taraf membuat seseorang ingin belajar “bahasa ibu” mereka.

Makna Peyorasi “Korea-Korea”

Dulu ketika saya masih SD, seringkali ketika saya dan anak anak kampung lewat di sebuah jalan yang terkenal angker, ato sejenis berbahaya, atau dalam artian jalan itu berpotensi ditongkrongi oleh anak-anak bandel, suka malak orang, suka mukulin orang, atau hal yang jauh dari positif lain, maka saat itu pula kami nyeloteh “awas ojo lewat kono, eneng korea korea!”

Entah mengapa frasa “korea korea” mengalami “peyorasi” makna dan begitu mudah sekali terucap dari mulut ketika hal negatif tentang seseorang sedang dipertontonkan. Yang jelas di tahun 60 an kondisi ekonomi korea memang masih “11-12” dengan Indonesia. Kondisi ras etnik yang agak sedikit berbeda bisa jadi menjadi suatu anggapan bahwa negara mereka itu punya sumberdaya yang tidak lebih baik dari kita. Alias kelas “Blue Collar” yaitu semacam pembantu, buruh, TKW, dan pekerjaan-pekerjaan sejenisnya. Negara yang sama-sama pernah menjadi jajahan Jepang atas sumberdaya alam dan eksploitasi manusianya. Yah itulah Korea yang dulu, dengan pendapatan perkapita dan kondisi rakyat yang tak jauh berbeda dengan Indonesia.

Park Chung Hee dan Qur’an 

Suatu ketika salah satu pimpinan republik Korea, Park Chung Hee, ketika itu berkunjung ke Indonesia. Dia lantas melihat tulisan tempel yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasib mereka ”. (QS Ar-Ra’d:11). Dia meminta tolong salah satu ajudannya untuk mencari tahu arti kalimat tersebut. Ketika memahami apa sebenarnya makna dari tulisan tersebut, dia berfikir “inilah kalimat yang tepat untuk rakyat Korea saat ini”. Maka seketika dia pulang ke negara asalnya lalu ditempelah kalimat yang telah dimodifikasinya dit tiap tiap rumah yang ada di Korea, kalimat itu menjadi “Tuhan tidak akan mengubah nasib rakyat Korea kecuali rakyat Korea sendiri yang mengubah nasibnya”

Lantas siapakah sebenarnya Park Chung Hee? Park Chung-hee (박정희) adalah mantan jenderal dan pimpinan Republik Korea pada periode 1961-1979. Ia lahir di Gumi-si, Gyeongsang Utara.  Ia dianggap sebagai pemimpin yang berjasa melakukan modernisasi di Korea Selatan (mirip Restorasi Meiji  di Jepang) melalui industrialisasi berorientasi ekspor. Orang yang pernah terpilih sebagai salah satu dari “100 Orang Asia Abad Ini” (“100 Asians of the Century“) oleh Time Magazine pada 1999 ini, mampu menangkap kekuatan makna dari “hanya” sebuah ayat yang ada di dalam kitab suci Al Qur’an.

Kalimat itu seakan terus menerus dijejalkan kepada seluruh rakyat Korea, seakan akan memberikan“power” untuk memberikan perubahan pada etos kerja rakyat Korea. Rakyat Korea menyadari perlunya semangat dan budaya yang “spartan” untuk mengubah nasib bangsanya dari status bangsa dari “Negara Dunia Ketiga” menjadi negara maju.

 Pop dan Film Korea di Indonesia

Tentunya masih kita ingat dimasa SD atau SMP kita, mendadak saja di stasiun Tv Swasta ada serial drama yang memang sebelum-sebelumnya belum pernah ditayangkan di Indonesia. Tentunya kita tidak lupa dengan serial “Endless Love” atau “Winter Sonata”. Namun efek menjamur dari ekspansi pop Korea ke Indonesia dulu memang tidak seperti sekarang, dimana industrialisasi media dan kemudahan akses internet menjadi jembatan empuk bagi para konsumen yang penasaran akan produk-produk orang Korea. 

Sebenarnya “demam korea”  berawal dari masuknya gelombang budaya pop Korea yang melanda generasi muda Cina. Pasar China memang selalu fantastis. Mereka menyebut demam ini dengan sebutan “hallyu” istilah ini muncul di Cina tahun 1997. Dampaknya di Cina luar biasa karena kemudian lahirlah hahanzu, yaitu fans fanatik aktris, aktor, penyanyi, budaya pop Korea dan bla bla bla.. soal Korea.

Orang Korea membawa semua ini dengan kebanggaan dan profesionalitas mereka sebagai seniman baru yang dikenal dunia. Terlepas dari efek negatif yang bisa ditimbulkan dari “budaya pop” atau lebih ekstrim lagi dengan istilah “budaya massa”, bangsa Korea telah membuktikan bahwa pada hakikatnya banyak sekali “tools” yang bisa dipergunakan bangsa mereka untuk membangkitkannya dari sebuah keterpurukan. Meskipun itu cuma sekedar satu kalimat.

Wallohua’lam

13 Des 2011 13.57WIB (di kelas sambil menunggu rumusan kesimpulan diskusi kompre😀 )

 

 

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

2 thoughts on “Demam Korea, Park Chung Hee, dan Makna Sebuah Ayat”

  1. Bagi sebagian rakyat Korea Selatan, nama mantan Presiden Park Chung-hee berarti kematian demokrasi. Namun, bagi sebagian lainnya, nama Park berarti kebangkitan ekonomi….(sebuah kutipan) namun bagi mas Agam di jadikan sebuah tulisan yang bagus…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s