Ghazwul Fikri III: Bentuk Permusuhan dan Strategi Penyerangan

Bentuk Permusuhan Islam-Barat

Pada awal tahun 1990-an atau pasca-Perang Dingin, kita menyaksikan “Perang Salib baru” telah terjadi atau kian kentara. Dapat pula hal itu dikatakan sebagai “Perang Dingin baru”-Barat versus Islam. Bentuknya, pertama, Barat yang diwakili/dipimpin Amerika Serikat menunjukkan permusuhan atau sikap tidak bersahabat terhadap sejumlah negara Muslim (Irak, Iran, Sudan, dan Libya) yang tidak mau tunduk pada kepentingan atau kemauannya. Kedua, Barat/AS membiarkan — kalau tidak dikatakan “membantu” dan “mendalangi’ — terjadinya agresi, pembunuhan, dan terorisme terhadap umat Islam.

Kasus paling menonjol terjadi di satu-satunya negara Eropa yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, Bosnia-Herzegovina Di sana, etnis Katolik Serbia yang didukung — atau setidaknya dibiarkan — negara-negara Kristen Barat “membersihkan” komunitas Muslim Bosnia (Muslim cleansing. Dalam memerangi Muslim Bosnia, orang-orang Serbia meneriakkan panji-panji Perang Salib. “Perang agama kembali tampil ke pentas drama dunia,” kata Karen Amstrong. “Bosnia bukan merupakan akhirpertunjukkan (perang agama) ini, namun ia adalah awal Perang Salib, “ timpal Akbar S. Ahmed.

Kita juga melihat Barat “bermain” dalam kasus Aljazair dan Turki. Barat diwakili Prancis-berada di belakang penjegalan kemenangan partai Islam FIS pada pemilu nasional Desember 1991 oleh militer Aljazair yang berbuntut krisis berkepanjangan itu. FIS dicap Barat sebagai “partai fundamentalis Muslim” dan karenanya ia berbahaya bagi kepentingan Barat Barat juga berdiri di belakang militer dan kaum Kemalis-sekuler yang menghambat laju kejayaan partai Islam Rafah (Welfare Party) Turki. Ke¬menangan Rafah pada pemilu nasional Desember 1995 dibuat tidak berarti karena atas desakan Barat kubu sekuler “bersatu” untuk tidak mau diajak berkoalisi bagi pembentukan pemerintahan. Kalaupun Necmettin Erbakan, pemimpin Rafah, akhirnya merasakan kursi Perdana Menteri atau berhasil membentuk pemerintahan Quni 1996), usia jabatannya tidak sampai setahun. la mengundurkan diri karena mendapat tekanan kuat dari militer Turki yang mengklaim diri sebagai “penjaga warisan sekularisme Turki modern”.

Tentu saja, salah satu front besar “Perang Dingin baru” itu masih pada masalah Palestina Langkah-langkah Israel tetap mendapat dukungan Barat (AS) ketika negara Zionis Yahudi itu sekuat tenaga menghalangi terbentuknya negara Palestina merdeka dan membasmi gerakan-gerakan Islam (Hamas, Jihad Islam, juga Hizbullah di Lebanon) yang terus berjuang dengan membawa bendera Islam.

Bentuk-bentuk permusuhan Barat terhadap Islam menurut Murad W. Hoffman16 meliputi tiga hal berikut :
Pertama adalah Penyianyiaan. Barat bersikap masa bodoh terhadap keberhasilan peradaban umat Islam yang mengagumkan di Andalusia dari abad ke-8 hingga abad ke-15. Tokoh-tokoh ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al-Kindi, ar-Razi, al-Farabi, dan sebagainya, diabaikan dalam penulisan sejarah dunia.

Kedua adalah Penerapan double standard, misalnya pada penggunakan istilah “fanatik Muslim”, namun tidak keluar istilah “fanatik Katolik” atau “fanatik sosialis”. Barat menisbatkan tindakan Saddam Hussein dengan Islam, namun tidak ada penisbatan kejahatan Hitler dengan Kristen atau Katolik. Barat, atas nama demokrasi, membela penguasa Haiti yang terpilih secara demokratis, namun diam ketika FIS yang juga menang dalam pemilu di Aljazair, diberangus junta militer. Barat juga “diam” dalam kasus Bosnia dan Palestina atau ketika Rusia menginvasi Muslim Chechnya. Barat pun bungkam dengan jargon HAM-nya atas kasus Kashmir, Moro, Pattani, dan lain-lain, namun ‘lancang” meneror Indonesia dalam kasus Timor Timur yang mayoritas berpenduduk umat Katolik.

Ketiga adalah Permusuhan ateisme-rasialisme. Sekarang ini berkembang ketakutan orang-orang Eropa akan bedirinya pemerintahan Islam, takut bahwa ia akan tidak sesuai dengan pemerintahan sekuler di Barat Persangkaan mereka adalah salah sekali karena pemerintahan Barat adalah Republik Kristen Demokrat.

Strategi Penaklukan oleh Barat

Secara umum, sekurang-kurangnya ada empat strategi yang dilakukan Barat-dengan kepemimpinan AS-untuk menaklukkan dunia rslam atau negara-negara Islam (berpenduduk mayoritas Muslim).

Pertama, menciptakan kondisi ketergantungan. Program bantuan luar negeri (foreign aid), seperti bantuan ekonomi, tenaga ahli, militer, dan pemberian pinjaman (utang luar negeri), yang mengalir deras dari negara-negara Barat ke negara-negara Islam, merupakan bagian dari penciptaan kondisi ketergantungan itu. Dengan “ikatan” bantuan tersebut Barat dapat me-ngendalikan kebijakan negara-negara penerima bantuan atau pinjamannya, atau paling tidak “menguasai” elite-elite politiknya agar melayani kepen tingan mereka atau minimal tidak memusuhi mereka.

Suatu negara yang menerima bantuan dari negara lain tentu saja harus “tunduk” dan berada dalam pengaruh pemberi bantuan tersebut, sehingga setiap keputusan politik negara penerima bantuan harus disesuaikan, atau paling tidak harus mendapat “restu”, dari negara pemberi bantuan. Alasan pemberian bantuan oleh suatu negara, terutama karena tercakup self-interest politik, strategi, dan ekonomi, sekalipun pada umumnya alasan itu berupa motivasi moral atau bantuan kemanusiaan.

Secara kelembagaan, Barat/AS menggunakan IMF (International Monetary Fund) sebagai sarana penciptaan kondisi ketergantungan tersebut Bantuan yang dikucurkan IMF ke sebuah negara, seperti dialami Indonesia pada masa krisis ekonomi sekarang, selalu diiringi “pendiktean” kebijakan ekonomi-politik yang harus dilaksanakan sebagai prasyarat lancarnya kucuran dana. Tentu, kebijakan tersebut disesuaikan dengan kepentingan Barat dalam kerangka menancapkan kuku hegemoninya. Itulah sebabnya, harakah Islamiyah seperti Hizbut Tahrir melarang daulah lslam bergabung dengan IMF, termasuk meminta bantuan apa pun, karena lembaga dunia itu adalah alat yang dipergunakan AS untuk mengendalikan keuangan dan perdagangan dunk. Utang-utang luar negeri menurut mereka adalah alat untuk memiskinkan negara, menghancurkan perekonomian, serta sarana untuk membentangkan dominasi negara kafir yang memberikan utang kepadanya.

Kedua, penanaman rasa permusuhan dan saling curiga di antara negara-negara Islam (politik pecah belah, devide et impera). Persatuan umat Islam adalah hantu menakutkan bagi Barat Karenanya, Barat terus berupaya agar umat Islam saling bermusuhan dan berpecah-belah bahkan bila perlu berperang satu sama lain.

Strategi ini, misalnya, terungkap dalam sebuah memorandum orien-talis yang cukup akrab di telinga kita, Snouck Hurgronye : “Tidak ada faedahnya kita memerangi kaum Muslimin atau berkonfrontasi untuk menghancurkan Islam dengan kekuatan senjata. Itu semua bisa kita lakukan dengan mengadu domba mereka dari dalam dengan menanamkan perselisihan agama,pemikiran, dan mazhab, dan menumbuhkan keraguan kaum Muslimin pada kebersihan pemimpin-pemimpin mereka.”

Kawasan Islam yang paling sering menjadi korban strategi ini adalah Timur Tengah (dunia Arab). Perang Irak-Iran, Irak-Kuwait, ketegangan Arab Saudi-Irak dan Arab Saudi-Iran, konflik perbatasan Arab Saudi-Qatar dan Irak-UEA, konflik Mesir-Sudan dan Taliban-Iran, dan sebagainya adalah contoh keberhasilannya-setidaknya kalau memang tidak didalangi Barat ia menjadi sasaran empuk strategi Barat ini. Penciptaan dikotomi “Islam/ Muslim moderat” dan “Islam/Muslim radikal” atau “Islam/Muslim garis keras” pun termasuk bagian dari politik pecah belah untuk melemahkan kekuatan umat Islam. Umumnya, kelompok “moderat” didekati atau mendekati dan dibantu Barat Sebaliknya, kelompok “radikal” dimusuhi.

Permusuhan antarsesama negara Islam dan sesama pejuang Islam merupakan peluang emas bagi Barat untuk menjalankan strategi penakluk-annya. Lihat saja, bagaimana Kuwait kini ber tekuk lutut di bawah hegemoni Amerika karena dibela dalam PerangTeluk. Juga Arab Saudi yang “dilindungi” militer Amerika dari kemungkinan serangan Irak.

Ketiga, pencegahan program persenjataan nuklir di negara-negara Islam, tidak saja untuk melanggengkan supremasi Barat dalam persenjataan nuklir, tapi juga agar negara-negara Islam lemah secara militer. Barat bereaksi keras jika ada negara Islam yang memprogram pengembangan kemampuan nuklirnya. Lihat saja bagaimana AS mengotaki penggulingan Zulfikar Bhutto (1977) karena pemimpin Pakistan ini merencanakan pembangunan proyek nuklir, mendiamkan Israel menyerang pusat nuklir Irak (1981), melakukan demonologi terhadap Pakistan dengan mencapnya sebagai negara “Bom Islam” (Islamic BomB) ketika ia diduga memiliki senjata nuklir, menolak dan mencegah kerja sama tenaga nuklir antara Iran dan Cina sekalipun dalam pengawasan IAIE (Dewan Energi Atom Inter-nasional), dan lain-lain. Sebaliknya, Amerika (Barat) mendukung dan men¬diamkan Israel (musuh Arab/Islam) atau India (musuh Pakistan) memiliki kemampuan nuklir.

Keempat, peredaman dan pembasmian “kekuatan Islam”, khususnya gerakan-gerakan Islam (harakah Islamiyah) yang merupakan oposisi terdepan terhadap hegemoni Barat TerlebUi, harakah Islamiyah yang berjuang demi tegaknya syariat Islam di dunia ini, umumnya berkarakter anti-Barat atau anti-AS. Barat habis-habisan membantu Israel menumpas Hamas dan Jihad Islam di Palestina serta Hizbullah di Lebanon.

Strategi ini juga dilaksanakan dengan taktik menciptakan dan men¬dukung pemerintahan tirani, diktator, dan otoriter di negara-negara Muslim. Tiranisme, diktatorianisme, dan otoriterianisme yang dalam kamus Barat merupakan musuh demokrasi itu, diberlakukan jika sebuah rezim atau penguasa di negara Muslim “bersahabat” dengan Barat dan memusuhi gerakan-gerakan Islam. Demokrasi atau demokratisasi yang menjadi jargon Barat selama ini, hanya berlaku di sebuah negara jika hal itu menguntungkan mereka atau tidak menimbulkan ancaman bagi mereka. Demokrasi tidak berlaku di dunia Islam jika ternyata hanya memunculkan kekuatan Islam atau melahirkan sebuah pemerintahan Islam. Sebaliknya, kediktatoran yang mampu memelihara kepentingan Barat harus didukung.

Tokoh Yahudi Menachem Begin, misalnya, yang membela habis-habis¬an langkah Presiden Mesir Anwar Sadat dalam menangkapi para aktivis Ikhwanul Muslimin, mengatakan lupakan saja praktek demokrasi kalau hal itu bersangkutan dengan kaum Muslimin. Hal senada dikemukakan orientalis berkebangsaan Amerika, W.C. Smith, “Jika kaum Muslim diberi kebebasan di negerinya sendiri (dunia Islam) dan hidup di bawah sistem demokrasi (syura), Islam akan mampu berkuasa di negeri ini. Jalan satu-satunyayang mampu memblokade dan mendiskualifikasikan masyarakat Islam dan agamanya adalah dengan sistem pemerintah¬an diktator.”

Karenanya, tidak mengherankan kita, Barat tidak pernah berteriak tentang demokrasi di negara-negara Muslim Timur Tengah. Mendorong proses demokrasi di kawasan Islam itu berarti memberikan peluang bagi kemenangan “fundamentalisme Islam” yang dipandang dapat mengancam kepentingan Barat.Tidak mengherankan kita pula, sejumlah pemimpin negara Arab-termasuk para emir dan raja-mampu bertahan lama dan tidak diusik di tampuk kekuasaannya, meskipun mereka bertindak antidemokrasi dan melanggar HAM dengan tidak membuat ruang bagi adanya oposisi dan menindas para aktivis gerakan Islam. Presiden Mesir Husni Mubarak dapat bertahan lama di kursi kepresidenannya karena menjalankan “instruksi” Barat untuk melibas para aktivis Islam (Ikhwanul Muslimin dan generasi penerusnya). Demikian pula Presiden Hafez Assad, Presiden Irak Saddam Hussein, dan Presiden Libya Muammar Khadafy. Meskipun ketiganya tampak dimusuhi Barat, antara lain dengan mencapnya sebagai “sponsor terorisme internasional”, tetapi tidak direkayasa agar jatuh karena “berjasa” melakukan penumpasan gerakan-gerakan Islam “fundamentalis” yang ber-kembang di negaranya masing-masing.

Kasus paling menonjol terjadi di Aljazair. Di negara Afrika Utara ini, alih-alih mendukung demokratisasi, Barat malah mendukung rezim diktator militer untuk menjegal naiknya partai Islam FIS ke tampuk kekuasaan dengan dibatalkannya kemenangan partai Islam itu dalam pesta demokrasi (pemilu) Desember 1991.

Di Bosnia, Barat tampak enggan menghentikan pembantaian etnis Muslim Bosnia oleh Serbia; salah satu sebabnya karena yang ditindas adalah umat Islam. Barat tampaknya “bersyukur” atas upaya Serbia-pimpinan penguasatirani Slobodan Milosevic-menghapuskan Islam di daratan Eropa. Bagi Barat, HAM boleh dilanggar asalkan menguntungkan mereka dan melenyapkan kekuatan Islam.

Contoh lain adalah bagaimana reaksi Barat terhadap penerapan syariat Islam di Sudan. Segera setelah diumumkannya penerapan syariat Islam oleh Presiden Omar Hasan al-Bashir, Sudan menjadi fokus negara-negara Barat Terlebih, di belakang semua kebijakan pemerintah al-Bashir, khusus-nya tentang “Islamisasi” Sudan, adalah gerakan Islam Front Nasional Islam (INF, Islamic National Front) pimpinan tokoh kharismatik harakah Islam yang tidak asing lagi: Dr. Hasan at-Turabi. Barat kemudian mengucilkan Sudan dari pergaulan internasional, melakukan demonologi dengan men¬capnya sebagai negeri kaum “fundamentalis”, “Irannya Arab” (karena kedekatan hubungan Sudan dengan Iran), dan membantu gerakan separatis atau pemberontakan di Sudan Selatan-yakni Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA) pimpinan John Garang untuk menggoyang stabilitas peme-rintahan Islam Sudan.

(Disarikan dari materi Ghazwul Fikr Kelas Tarbiyah Tsaqofiyah (TTs) Mardliyyah UGM 2008)

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s