Ghazwul Fikri I

The Green Menace! Bahaya Hijau! Demikian istilah yang muncul ke permukaan ketika kaum Zionis Yahudi, Salibis, atau negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat melihat kekuatan Islam dengan maraknya aktivitas gerakan Islam di berbagai belahan dunia, sebagai ancaman bagi kepentingan mereka. “Bahaya hijau” digunakan sebagai pengganti “bahaya merah” (komunisme Soviet) yang telah “kalah” dalam Perang Dingin (The Cold War).

Persepsi ancaman Islam, yang menyebabkan Barat memusuhi dan memerangi Islam dan kaum Muslim, sebenarnya bukan hal baru. Khususnya sejak terjadinya Perang Salib, Barat yang nota bene kaum Zionis, Salibis, dan sekularis, melihat betapa Islam merupakan kekuatan dahsyat yang dapat menguasai dunia sekaligus mengancam kepentingan mereka, sebagai mana telah dibuktikan sejak masa Khulafaur Rasyidin hingga Khilafah Islam Utsmaniyah Turki. Karena itulah, Barat senantiasa merancang dan melaksanakan berbagai upaya untuk melemahkan Islam dan para pembelanya, antara lain melalui invasi pemikiran dan kebudayaan serta demonologi Islam, karena mereka menyadari tidak akan dapat menguasai dunia Islam dengan jalan peperangan militer.

Ketika kita akan memasuki ambang millennium ketiga Masehi, banyak futuris dan pengamat melontarkan pemikirannya tentang apa yang bakal terjadi pada masa mendatang atau bagaimana wajah dunia pada usianya menapaki keseribu tahun ketiga itu, dengan warna utama benturan kepenĀ¬tingan yang kian keras antara Barat dan Islam. Akbar S. Ahmed misalnya, mengatakan bahwa di ambang millennium mendatang, dua peradaban global tampaknya akan berhadapan dalam suatu konfrontasi kompleks di segala tingkat aktivitas manusia. Peradaban yang satu berpangkal di negara-negara Muslim (dunia Islam), sedangkan yang lain di dunia Barat (terutama Amerika Serikat dan Eropa Barat). “Para pengamat telah melihat konfrontasi ini sebagai suatu malapetaka dan menyebutnya perang suci terakhir, “tulis Ahmed.

Apa yang dikemukakan antropolog Muslim asal Pakistan itu tentu saja senada dengan atau mengingatkan kita kepada tesis Samuel P. Huntington yang menghebohkan dan diekspos berbagai media massa, yakni tentang “benturan peradaban” (clash of civilizations). Menurut pakar politik dari Harvard University AS itu, pada masa depan akan terjadi konflik peradaban antara Barat dan Islam yang beraliansi dengan Konfusianisme di Asia.

Isu konflik Barat-Islam memang menghangat sejak kolapsnya komunisme (Uni Soviet). Pasca Perang Dingin, dunia Barat melihat Islam sebagai kekuatan baru yang menjadi ancaman mereka. Islam adalah The Green Menace (Bahaya Hijau) sekaligus the next enemy (musuh berikumya) bagi Barat Terlebih lagi pasca Perang Dingin kian marak bermunculan fenomena kebangkitan Islam berupa peningkatan intensitas dan aktivitas gerakan (politik) Islam di berbagai belahan dunia Islam. Ada pendapat bahwa semangat Perang Salib kembali berkobar. Memang, “Adalah kesalahan fatal bila menyangka semangat Perang Salib telah punah, “kata Murad W. Hoffman.

bersambung.. Ghazwul Fikri : Sumber Permusuhan Islam-Barat

(Disarikan dari materi Ghazwul Fikr Kelas Tarbiyah Tsaqofiyah (TTs) Mardliyyah UGM 2008)

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s