Ghazwul Fikri II : Sumber Permusuhan

Sumber Permusuhan Islam – Barat

Apa yang menjadi sumber permusuhan Barat terhadap Islam dewasa ini, sehingga mereka mengerahkan segala upaya dan tipu daya untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslim? Pada garis besarnya ada dua sebab.

Pertama adalah dendam historis. Selama berabad-abad, Barat takluk di bawah hegemoni Khilafah Islam. Kebencian kaum Kristen Barat pernah meledak dalam bentuk pengobaran api perang terhadap umat Islam, yaitu dengan terjadinya Perang Salib (1096-1291M) yang bertujuan utama penghancuran Islam. Akan tetapi, melalui peperangan tersebut, umat Islam gagal dilumpuhkan, bahkan kemenangan lebih banyak diraih pasukan Islam. Trauma perang tersebut berdampak pada tertanamnya rasa antipati dan saling curiga di kedua belah pihak.

Perang Salib membentuk fondasi pertama dan esensial untuk memantapkan sikap Eropa (baca: Barat) terhadap Islam. Dendam Perang Salib itu belum padam. Kebencian dan rasa permusuhan Barat terhadap Islam itu muncul lagi ke permukaan setelah Perang Dingin berakhir. Hal itu misalnya terungkap lewat ucapan Menteri Luar Negeri Italia menjelang sebuah persidangan NATO di London, “Benar, Perang Dingin antara Barat dan Timur (komunis Uni Soviet) telah berakhir, tetapi timbul lagi pertarungan baru, yaitu pertarungan antara dunia Barat dan dunia Islam. “ Hal itu dipertegas seorang penulis ternama, Adrian Hamilton, dalam majalah bulanan terbitan London, Observer, edisi 17 Juni 1990, “Bagi Barat, tidak ada lagi yang mengancam peradaban mereka kecuali kebangkitan Islam dan gerakan kaum Muslimin yang terdiri atas kaum fimdamentalis yang tidak takut mati sekalipun tidak dipersenjatai peluru-peluru kendali.”

Benturan Barat-Islam sendiri terjadi terutama ketika pasukan Islam masuk ke Eropa melalui Selat Gibraltar. Menurut G.H. Jansen, seorang diplomat Inggris untuk urusan negeri-negeri Timur, setelah dibuat gentar oleh serbuan bala tentara Islam ke Prancis, kaum Kristen (Barat) menjadi benci, menyalahgunakan, dan menyerbu Islam dan dunia Islam selama dua belas abad berikutnya. Menurut Jansen, konfrontasi Kristen-Islam dimulai di bidang agama dan spiritual, yang karenanya Barat memprogram kristenisasi di dunia Islam.

Kedua adalah Kesalahpahaman Masyarakat Barat. Masyarakat Barat umumnya melakukan kesalahan dalam memahami Islam. Hal itu terjadi karena masyarakat Barat umumnya mempelajari dan memahami Islam dari buku-buku para orientalis, sedangkan para orientalis mengkaji Islam dengan tujuan untuk menimbulkan miskonsepsi terhadap Islam atau menyelewengkan ajaran Islam, selain adanya motif politis yaitu untuk mengetahui rahasia kekuatan umat Islam yang tidak lepas dari ambisi imperialis Barat untuk menguasai dunia Islam. Umumnya, ketika berbicara tentang Islam, pandangan dan analisis para orientalis tidak objektif dan tidak fair, sudah bercampur dengan subjektivisme dan kepentingan tertentu. Karenanya, pandangan mereka biased dan berat sebelah. Hasilnya adalah kesalahpahaman terhadap Islam di dunia Barat Citra Islam yang tampak di mata orang-orang Barat adalah kekejaman, kekerasan, fanatisme, kebencian, keterbelakangan, dan entah apa lagi.

Hal itu diperparah dengan sajian media massa mereka yang menampilkan Islam tidak secara utuh. Bahkan, Islam yang mereka kenalkan bukan “Islam kebanyakan” (Sunni), melainkan Islam Syi’ah (Iran) yang hanya dianut oleh 10% kaum Muslim dunia. “Syi’ah menjadi perwakilan Islam di media Barat,” tulis Akbar S. Ahmed. Karena ketakutan media Amerika,” kata Ahmed, “citra Iran menjadi citra Islam di seluruh dunia. Citra ini antara lain memperlihatkan para mullah bermata kosong yang berteriak-teriak atau kaum wanita dengan tubuh tertutup dari kepala hingga ujung jari kaki, atau para pemuda memegang senapan Kalashnikof”

Kekeliruan Barat dalam memahami Islam yang lain adalah menyamakan Islam dengan perilaku individu umat Islam. Misalnya, ketika ada orang atau sekelompok orang Islam yang melakukan kekerasan, cap “teroris” pun dilekatkan pada Islam tanpa mau tahu mengapa aksi kekerasan itu terjadi. Karenanya, populerlah istilah Terorisme Islam”. Bagi Barat, Islam adalah genderang perang Khomeini dan Qaddafi terhadap Amerika, agresi Saddam terhadap Kuwait, pembunuhan Sadat, “bom bunuh diri” aktivis Hamas, dan sebagainya.

Kesalahpahaman tersebut diperparah lagi oleh gencarnya serangan propaganda Barat melalui berbagai media massanya untuk memojokkan agama dan umat Islam. Dalam pengemasan berita tentang umat Islam, Barat kerap mengekspos cap-cap seperti “fundamentalisme”, “militanisme”, “ekstremisme”, “radikalisme”, dan bahkan “terorisme” yang arahnya jelas: untuk mendiskreditkan Islam.

Fobi Islam (Islamophobia, ketakutan terhadap Islam) adalah produk utama propaganda media massa Barat. Parahnya, fobi Islam itu tidak saja melanda masyarakat Barat, tetapi juga sebagian (besar?) umat Islam. Mereka ini sebuah ironi – takut jika syariat Islam yang notabene ajaran agamanya sendiri, menjadi landasan bagi pembentukan sistem pemerintahan negara. Mereka merasa ngeri bila hukum Islam diberlakukan karena frame yang ada di kepala mereka adalah hukum rajam bagi pezina, hukum cambuk bagi pemabuk, hukum potong tangan bagi pencuri, atau hukum mati bagi pembunuh – isu-isu hukum Islam yang menjadi bahan pro¬paganda Barat untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya dan menumbuhkan fobi Islam.

Revolusi Islam Iran (1979) umumnya dijadikan referensi : jika kekuatan Islam naik ke puncak kekuasaan di suatu negara, pemerintahan negara itu akan menerapkan syariat Islam dan anti-Barat, khususnya anti-Amerika Adapun kepentingan Barat di dunia Islam sangat vital. Dunia Islam bagi Barat, yang terbentang dari Maroko hingga Merauke, letak geografisnya sangat strategis bagi kepentingan politik dan militer. Kekayaan alamnya, khususnya minyak, merupakan kebutuhan vital bagi industri-industri Barat Bisa dikatakan bahwa roda perekonomian negara-negara Barat sangat bergantung pada minyak yang ada di sebagian besar negara-negara Islam. Timur Tengah, sebagai tempat kelahiran dan “pusat Islam”, merupakan pemasok terbesar kebutuhan minyak dunia. Itulah salah satu alasan mengapa Barat merasa “wajib” menaklukkan dunia Islam.

bersambung.. Ghazwul Fikri III: Bentuk Permusuhan Barat-Islam

(Disarikan dari materi Ghazwul Fikr Kelas Tarbiyah Tsaqofiyah (TTs) Mardliyyah UGM 2008)

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s