Melihat Sejenak Persyarikatan Muhammadiyah

Profil KH Ahmad Dahlan

Ahmad Dahlan lahir di Kampung Kauman Yogyakarta pada tahun 1868 dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya K.H. Abu Bakar adalah imam dan khatib Masjid Besar Kauman Yogyakarta, sementara ibunya Siti Aminah adalah anak K.H. Ibrahim, penghulu besar di Yogyakarta. Menurut salah satu silsilah, keluarga Muhammad Darwis dapat dihubungkan dengan Maulana Malik Ibrahim, salah seorang wali penyebar agama Islam yang dikenal di Pulau Jawa, sejak kecil Muhammad Darwis sudah belajar membaca Quran di kampung sendiri atau di tempat lain. Ia belajar membaca Quran dan pengetahuan agama Islam pertama kali dari ayahnya sendiri dan pada usia delapan tahun ia sudah lancar dan tamat membaca Quran. Menurut cerita, sejakIa belajar fiqh dari K.H. Muhammad Saleh dan belajar nahwu dari K.H. Muhsin. Selain belajar dari dua guru di atas yang juga adalah kakak iparnya, Muhammad Darwis belajar ilmu agama lslam lebih lanjut dari K.H. Abdul Hamid di Lempuyangan dan KH. Muhammad Nur[1].

Ahmad Dahlan juga belajar dengan para ulama di Arab Saudi ketika ia sedang menunaikan ibadah haji. Ia pernah belajar ilmu hadist kepada Kyai Mahfudh Termas dan Syekh Khayat, belajar ilmu qiraah kepada Syekh Amien dan Sayid Bakri Syatha, belajar ilmu falaq pada K.H. Dahlan Semarang, dan ia juga pernah belajar pada Syekh Hasan tentang mengatasi racun binatang. Menurut beberapa catatan, kemampuan intelektual Muhammad Darwis ini semakin berkembang cepat dia menunaikan ibadah haji pertama pada tahun 1890,beberapa bulan setelah perkawinannya dengan Siti Walidah pada tahun 1889. Proses sosialisasi dengan berbagai ulama yang berasal dari Indonesia seperti: Kyai Mahfudh dari Termas, Syekh Akhmad Khatib dan Syekh Jamil Jambek dari Minangkabau, Kyai Najrowi dari Banyumas, dan Kyai Nawawi dari Banten, maupun para ulama dari Arab, serta pemikiran baru yang ia pelajari selama bermukim di Mekah kurang lebih delapan bulan, telah membuka cakrawala baru dalam diri Muhammad Darwis, yang telah berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Perkembangan ini dapat dilihat dari semakin, luas dan bervariasinya jenis kitab yang dibaca Ahmad Dahlan. Sebelum menunaikan ibadah haji, Ahmad Dahlan lebih banyak mempelajari kitab-kitab, dari Ahlussunnah waljamaah dalam ilmu aqaid, dari madzab Syafii dalam ilmu Fiqh dari Imam Ghozali dan ilmu tasawuf[2].

Ia belajar fiqh pada Syekh Saleh Bafadal, Syekh Sa’id Yamani, dan Syekh Sa’id Babusyel. Ahmad Dahlan belajar ilmu hadist pada Mufti Syafi’i, sementara itu ilmu falaq dipelajari pada Kyai Asy’ari Bawean. Dalam bidang ilmu qiruat, Ahmad Dahlan belajar dari Syekh Ali Misri Makkah. Selain itu, selama bermukim di Mekah ini Ahmad Dahlan juga secara reguler mengadakan hubungan dan membicarakan berbagai masalah sosial-keagamaan, termasuk masalah yang terjadi di Indonesia dengan para Ulama Indonesia yang telah lama bermukim di Arab Saudi, seperti: Syekh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang. Berdasarkan koleksi buku-buku yang ditinggalkan oleh Ahmad Dahlan, sebagian besar adalah buku yang dipengaruhi ide-ide pembaharuan. Di antara buku-buku yang sering dibaca Ahmad Dahlan antara lain: Kosalatul Tauhid karanganMuhammad Abduh, Tafsir Juz Amma karangan Muhammad Abduh, Kanz Al-Ulum,Dairah Al Ma’arif karangan Farid Wajdi, Fi Al -Bid’ah karangan Ibn Taimiyah,Al Tawassul wa-al-Wasilah karangan Ibn Taimiyah, Al-Islam wa-l-Nashraniyahkarangan Muhammad Abduh, Izhar al-Haq karangan Rahmah al Hindi, Tafsshilal-Nasyatain Tashil al Sa’adatain, Matan al-Hikmah karangan Atha Allah, danAl-Qashaid al-Aththasiyvah karangan Abd al Aththas[3].

Bagaimana proses pembentukan Muhammadiyah?

Setelah pulang dari menunaikan ibadah haji kedua, aktivitas sosial-keagamaan Ahmad Dahlan di dalam masyarakat di samping sebagai Khatib Amin semakin berkembang. Ia membangun pondok untuk menampung para murid yang ingin belajar ilmu agama Islam secara umum maupun ilmu lain seperti: ilmu falaq, tauhid, dan tafsir. Para murid itu tidak hanya berasal dari wilayah Residensi Yogyakarta, melainkan juga dari daerah lain di Jawa Tengah.Walaupun begitu, pengajaran agama Islam melalui pengajian kelompok bagi anak- anak, remaja, dan orang tua yang telah lama berlangsung masih terus dilaksanakan. Di samping itu, di rumahnya Ahmad Dahlan mengadakan pengajian rutin satu minggu atau satu bulan sekali bagi kelompok-kelompok tertentu,seperti pengajian untuk para guru dan pamong praja yang berlangsung setiap malam Jum`at. Ahmad Dahlan juga aktif dalam organisasi pergerakan yang lahir pada masa itu salah satunta Budi Utomo. Dalam perkembangan selanjutnya, Ahmad Dahlan tidak hanya menjadi anggota biasa, melainkan ia menjadi pengurus kring Kauman dan salah seorang komisaris dalam kepengurusan Budi Utomo Cabang Yogyakarta. Sementara itu,pada sekitar tahun 1910 Ahmad Dahlan juga menjadi anggota Jamiat Khair,organisasi Islam yang banyak bergerak dalam bidang pendidikan dan mayoritas anggotanya adalah orang-orang Arab. Keterlibatan secara langsung di dalam Budi Utomo memberi pengetahuan yang banyak kepada Ahmad Dahlan tentang cara berorganisasi dan mengatur organisasi secara modern[4].

Berinteraksi dengan kedua organisasi ini memberikan inspiras dan gagasan baru bagi Ahmad Dahlan. Oleh karena itu dia secara pribadi mulai merintis pembentukan sebuah sekolah yang memadukan pengajaran ilmu agama Islam dan ilmu umum. Dalam berbagai kesempatan Ahmad Dahlan menyampaikan ide pendirian sekolah yang mengacu pada metode pengajaran seperti yang berlaku pada sekolah milik pemerintah kepada berbagai pihak, termasuk kepada para santri yang belajar di Kauman maupun penduduk Kauman secara umum. Sekolah tersebut dimulai dengan 8 orang siswa, yang belajar di ruang tamu rumah Ahmad Dahlan yang berukuran 2,5 m x 6 m dan ia bertindak sendiri sebagai guru. Keperluan belajar dipersiapkan sendiri oleh Ahmad Dahlan dengan memanfaatkan dua buah meja miliknya sendiri. Sementara itu, dua buah bangku tempat duduk para siswa dibuat sendiri oleh Ahmad Dahlan dari papan bekas kotak kain moridan papan tulis dibuat dari kayusuren. Ketika pendirian sekolah tersebut dibicarakan dengan anggota dan pengurusBudi Utomo serta para siswa dan guru Kweekschool Jetis, Ahmad Dahlan mendapat dukungan yang besar. Di antara para pendukung itu adalah : Mas Rajiyang menjadi siswa, R. Sosro Sugondo, dan R. Budiharjo yang menjadi guru di Kweekschool Jetis sangat membantu Ahmad Dahlan mengembangkan sekolah tersebut sejak awal[5].

R. Budiharjo yang bersama-sama Ahmad Dahlan menjadi pengurus Budi UtomoYogyakarta banyak memberikan saran tentang penyelenggaraan sebuah sekolah sesuai dengan pengalamannya menjadi kepala sekolah di Kweekschool Jetis. Iajuga menyarankan kepada Ahmad Dahlan untuk meminta subsidi kepada pemerintah jika sekolah yang didirikan itu sudah teratur, dengan dukungan dari Budi Utomo. Selain itu, pendirian sekolah itu juga mendapat dukungan dari kelompok terpelajar yang berasal dari luar Kauman serta para siswa Kweekschool Jetis yang biasa datang ke rumahnya pada setiap hari Ahad. Sebagai realisasi dari dukungan Budi Utomo, organisasi ini menempatkan Kholil, seorang guru di Gading untuk mengajar ilmu pengetahuan umum pada sore hari di sekolah yang didirikan Ahmad Dahlan. Oleh sebab itu, para siswa masuk dua kali dalam satu hari karena Ahmad Dahlan mengajar ilmu pengetahuan agama Islam pada pagi hari. Walaupun masih mendapat tantangan dari beberapa pihak, jumlah siswa terus bertambah sehingga Ahmad Dahlan harus memindahkan ruang belajar ke tempat yang lebih luas di serambi rumahnya[6].

Akhirnya setelah proses belajar mengajar semakin teratur, sekolah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu diresmikan pada tanggal 1 Desember 1911 dan diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Ketika diresmikan,sekolah itu mempunyai 29 orang siswa dan enam bulan kemudian dilaporkan bahwa terdapat 62 orang siswa yang belajar di sekolah itu. Sebagai lembaga pendidikan yang baru saja terbentuk, sekolah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan memerlukan perhatian lebih lanjut agar dapat terus dikembangkan. Pertama, perlu didirikan sebuah organisasi baru di Yogyakarta. Kedua, parasiswa Kweekschool tetap akan mendukung Ahmad Dahlan, akan tetapi mereka tidak akan menjadi pengurus organisasi yang akan didirikan karena adanya larangan dari inspektur kepala dan anjuran agar pengurus supaya diambil dari orang-orang yang sudah dewasa. Ketiga, Budi Utomo akan membantu pendirian perkumpulan baru tersebut. Pada bulan-bulan akhir tahun 1912 persiapan pembentukan sebuah perkumpulan baru itu dilakukan dengan lebih intensif,melalui pertemuan-pertemuan yang secara ekplisit membicarakan dan merumuskan masalah seperti nama dan tujuan perkumpulan, serta peran Budi Utomo dalam proses formalitas yang berhubungan dengan pemerintah Hindia Belanda[7].

Organisasi yang akan dibentuk itu diberi nama “Muhammadiyah”, nama yang berhubungan dengan nama nabi terakhir Muhammad SAW.”‘Berdasarkan nama itudiharapkan bahwa setiap anggota Muhammadiyah dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat dapat menyesuaikan diri dengan pribadi Nabi Muhammad SAW dan Muhammadiyah menjadi organisasi akhir zaman. Sementara itu, Ahmad Dahlan berhasil mengumpulkan 6 orang dari Kampung Kauman, yaitu: Sarkawi, Abdulgani, Syuja, M. Hisyam, M. Fakhruddin, dan M. Tamim untuk menjadi anggota Budi Utomo dalam rangka mendapat dukungan formal Budi Utomo dalam proses permohonan pengakuan dariPemerintahHindia Belanda terhadappembentukan Muhammadiyah.

Setelah seluruh persiapan selesai, berdasarkan kesepakatan bersama dan setelah melakukan shalat istikharah akhirnya pada tanggal 18 November 1912 M atau 8 Dzulhijjah 1330 H persyarikatan Muhammadiyah didirikan. Dalam kesepakatan itu juga ditetapkan bahwa Budi Utomo Cabang Yogyakarta akan membantu mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar pembentukan Muhammadiyah diakui secara resmi sebagai sebuah badan hukum. Pada hari Sabtu malam, tanggal 20 Desember 1912, pembentukan Muhammadiyah diumumkan secara resmi kepada masyarakat dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, pejabat pemerintah kolonial, maupun para pejabat dan kerabat Kraton Kasultanan Yogyakarta maupun Kadipaten Pakualaman. Pada saat yang sama, Muhammadiyah yang dibantu oleh Budi Utomo secara resmi mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mengakui Muhammadiyah sebagai suatu badan hukum. Menurut anggaran dasar yang diajukan kepada pemerintah pada waktu pendirian, Muhammadiyah merupakan organisasi yang bertujuan menyebarkan pengajaran agama Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumiputra di Jawa dan Madura serta memajukan pengetahuan agama para anggotanya. Pada waktu itu terdapat 9 orang pengurus inti, yaitu: Ahmad Dahlan sebagai kctua, Abdullah Sirat sebagai sekretaris, Ahmad, AbdulRahman, Sarkawi, Muhammad, Jaelani, Akis, dan Mohammad Fakih sebagai anggota. Sementara itu, para anggota hanya dibatasi pada penduduk Jawa danMadura yang beragama Islam[8].

Disamping memberikan kegiatan kepada laki-laki, pengajian kepada ibu-ibu dan anak-anak, beliau juga mendirikan sekolah-sekolah. Tahun 1913 sampai tahun 1918 beliau telah mendirikan sekolah dasar sejumlah 5 buah, tahun 1919 mendirikan Hooge School Muhammadiyah ialah sekolah lanjutan. Tahun 1921 diganti namnaya menjadi Kweek School Muhammadiyah, tahun 1923, dipecah menjadi dua, laki-laki sendiri perempuan sendiri, dan akhirnya pada tahun 1930 namnaya dirubah menjadi Mu`allimin dan Mu`allimat. Muhammadiyah mendirikan organisasi untuk kaum perempuan dengan Nama ‘Aisyiyah yang disitulah Istri KH. A. Dahlan, Nyi Walidah Ahmad Dahlan berperan serta aktif dan sempat juga menjadi pemimpinnya[9].

Apa gagasan utama Ahmad Dahlan?

Gagasan Ahmad Dahlan adalah bagai­mana dapatnya mengamalkan ayat-ayat al-Qur`an. Dengan demikian Muham­madiyah sebagai organisasi senantiasa diikhtiarkan untuk menjadi tempat untuk mengkaji Al-Qur`an sekaligus menjadi tempat bermusyawarah untuk mengamal­kannya. Oleh kare­na­nya Muhammadiyah tidak mungkin terpisah dari tiga prinsip yakni :pengkajian Al-Qur`an, musyawarah dan amal,[10]

Dari tulisan KH. Ahmad Dahlan dan pengung­kapan Haji Hajid tentang KH. Ahmad Dahlan dalam berorganisasi berpe­gang pada prinsip:

a. Senantiasa menghu­bung­kan diri (memper­tanggung­jawabkan tindakannya) kepada Allah.

b. Perlu adanya ikatan persa­u­daraan berdasar kebena­ran (sejati).

c. perlunya setiap orang, ter­utama para pemimpin terus-menerus menambah ilmu, sehingga dapat meng­ambil keputusan yang bijaksana.

d. Ilmu harus diamalkan.

e. Perlunya dilakukan peru­bahan apabila memang diperlukan untuk menuju keadaan yang lebih baik.

f. Mengorbankan harta sen­diri untuk kebenaran. Ikhlas dan bersih[11].

Haji Hajid menuliskan pe­nga­la­man­nya sebagai murid Ahmad Dahlan dalam risalah singkat berjudul falsafah Ajaran KH. Ahmad Dahlan[12], yakni tujuh poin yang dapat dipetik;

Pertama, Kerapkali KH. Ahmad Dahlan mengung­kapkan perkataan ulama (al-Ghazali pen) yang menyatakan bahwa manusia itu semuanya mati (mati perasaannya) kecuali para ulama yaitu orang-orang yang berilmu. Dan ulama itu senantiasa dalam kebi­ngungan, kecuali mereka yang beramal. Dan yang beramal pun semuanya dalam kekha­wa­tiran kecuali mereka yang ikhlas dan bersih.

Kedua, Kebanyakan mere­ka di antara manusia ber­watak angkuh dan takabur mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri. KH. Ahmad Dahlan heran mengapa pemim­pin agama dan yang tidak ber­agama selalu hanya berang­gap, mengambil keputu­san sendiri tanpa mengada­kan perte­muan antara mereka, tidak mau bertukar pikiran memper­bincangkan mana yang benar dan mana yang salah?.

Ketiga, Manusia kalau mengerjakan pekerja­an apa­pun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian jadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai. Kebiasaan yang dicintai itu sukar untuk dirubah. Sudah menjadi tabiat bahwa kebanya­kan manusia membela adat kebiasaan yang telah diterima, baik dari sudut atau i’tiqat, perasaan kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang akan merubah sanggup membela dengan mengor­ban­kan jiwa raga. Demikian itu karena anggapan­nya bahwa apa yang dimiliki adalah benar.

Keempat, Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus bersama-sama menggunakan akal pikirannya untuk berpikir bagai­mana sebenar­nya haki­kat dan tujuan manusia hidup di dunia. Manusia harus mem­per­­gunakan pikirannya untuk mengoreksi soal itikad dan kepercayaan­nya, tujuan hidup dan tingkah lakunya, mencari kebenaran yang sejati.

Kelima, Setelah manusia mendengarkan pelajaran-pelajaran fatwa yang ber­macam-macam membaca bebe­rapa tumpuk buku dan sudah memper­bincangkan, memikir-mikir, menimbang, membanding-banding kesana kemari, barulah mereka dapat mem­­peroleh keputusan, mem­­per­­oleh kebenaran yang sesungguh­nya. Dengan akal pikirannya sendiri dapat mengetahui dan menetapkan, inilah perbuatan yang benar.

Keenam, Kebanyakan para pemimpin belum berani mengor­­bankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolong­nya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasa­nya hanya meper­mainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah.

Ketujuh, Ilmu terdiri atas pengetahuan teori dan amal (praktek), Dalam mempelajari kedua ilmu itu supaya dengan cara bertingkat. Kalau setingkat saja belum bisa mengerjakan tidak perlu ditambah.

Adapun misi dakwah yang pertama dari Muhammadiyah adalah kembali ke Al-Qur’an san Sunnah Nabi Muhammadiyah saw. Ia melihat, bahwa umat Islam telah jauh melenceng dari apa yang digariskan oleh Nabi Muhammad saw. Pada saat yang bersamaan, sistem pendidikan yang membuat mereka kembali ke ajaran yang benar, masih minim jumlahnya. Karena itu, tugas Muhammadiyah, selain memperbaiki keimanan melalui pendidikan, ia juga berdakwah dengan karya nyata. Sebagai organisasi masyarakat yang berbasiskan agama, apalgi ajarannya adalah untuk kembali pada sumber aslinya, Al-Qur’an dan Al-Hadist, di tengah-tengah masyarakat yang berpesta dengan takhayul, bid’ah dan churafat (TBC), bukan kecil hambatan, rintangan yang mesti dihadapinya. Bagi Ahmad Dahlan, ajaran Islam tidak akan membumi dan dijadikan pandangan hidup pemeluknya, kecuali dipraktikkan. Betapapun bagusnya suatu program, menurut dahlan, jika tidak dipraktikkan, tak bakal bisa mencapai tujuan bersama[13].

Praktik amal nyata yang fenomenal ketika menerapkan apa yang tersebut dalam surah al-Ma’un yang secara tegas memberi peringatan kepada kaum muslimin agar mereka menyayangi anak-anak yatim dan membantu fakir miskin. Aplikasi surah al-Ma’un ini adalah terealisirnya rumah-rumah yatim dan menampung orang-orang miskin. Kondisi ini terjadi pada zaman penjajahan jepang yang menerapkan institusi romusha, yang merupakan lembaga kerja paksa untuk usaha perang Jepang di Indonesia. Akibat romusha ini banyak rakyat yang meninggal dunia anak-anak menjadi yatim, jumlah janda semakin bertambah, kemiskinan semakin melilit. Inilah yang mendorong Muhammadiyah akhirnya mendirikan Penolong Kesengsaran Oemoem di Panarukan, Jawa Timur[14].

Ketika menerapkan Al-Qur’an surah 26 ayat 80, yang menyatakan bahwa Allah menyembuhkan sakit seseorang, Muhammadiyah mendirikan balai kesehatan masyarakat atau rumah sakit. Lembaga ini didirikan, selain untuk memberi perawatan pada masyarakat umum, bahkan yang miskin digratiskan, juga untuk memberi penyuluhan, betapa pentingnya arti sehat. Berbagai bentuk penyuluhan diselenggarakan, agar masyarakat bisa hidup secara sehat sebagaimana diajarkan oleh Muhammad saw. Bila umat sehat, mereka akan jadi produktif yang manfaatnya untuk keluarga, umat dan negara. Al-Qur’an surah 96 ayat 1 yang memberi penekanan arti pentingnya membaca, diterjemahkan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Dengan pendidikan, buta huruf diberantas. Bila umat tak lagi buta huruf, maka mereka akan mudah menerima informasi lewat tulisan-tentang agamanya. Dari lembaga pendidikan ini muncul pula bahan-bahan bacaan, dalam bentuk buku, koran dan sejenisnya. Dengan mengetahui huruf rakyat akan mampu membaca, ketika sudah mampu membaca maka rakyat dapat melihat dunia. Membaca adalah jendela dunia[15].

Amal nyata Muhammadiyah yang dikomandoi oleh Ahmad Dahlan, tak pernah lepas dari tiga unsur di atas : rumah yatim dan fakir miskin, rumah sakit dan lembaga pendidikan. Dan itu terus dilakukan oleh generasi penerus Muhammadiyah sampai kini. Akhirnya usaha keras yang dirintis Ahmad Dahlan akhirnya berbuah juga. Muhammadiyah menjadi pelopor organisasi sosial kemasyarakatan yang berbasiskan agama serta memiliki corak pembaruan yang khas dan dinamis.

(Tim penyusun Kurikulum : Wibi, Agam, mas hari, Review (Singkat Materi halaqah Siyasi KAMMI UGM, 2009,Melihat Sejenak Persyarikatan Muhammadiyah )

Referensi :

“Sejarah Muhammadiyah”, , diakses pada 20 Juli 2009

“Sejarah Singkat Pendirian Persyarikatan Muhammadiyah”, , diakses pada 20 Juli 2009

Maman A. Madjid Minfas, “Muhammadiyah Versi Ahmad Dahlan : Gagasannya Yang Hampir Mati dan Terlupakan”, Majalah Tabligh Vol. 01/No. 12/ Juli 2003, , diakses pada 20 Juli 2009

Herry Mohammad, Dkk, “Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20”, “K.H. Ahmad Dahlan : Pembaru Dari Kauman”, Jakarta, Gema Insani Press, 2006

[1] “Sejarah Muhammadiyah”, , diakses pada 20 Juli 2009

[2] “Sejarah Muhammadiyah”, , diakses pada 20 Juli 2009

[3] “Sejarah Muhammadiyah”, , diakses pada 20 Juli 2009

[4] “Sejarah Muhammadiyah”, , diakses pada 20 Juli 2009

[5] “Sejarah Muhammadiyah”, , diakses pada 20 Juli 2009

[6] “Sejarah Muhammadiyah”, , diakses pada 20 Juli 2009

[7] “Sejarah Muhammadiyah”, , diakses pada 20 Juli 2009

[8] “Sejarah Muhammadiyah”, , diakses pada 20 Juli 2009

[9] “Sejarah Singkat Pendirian Persyarikatan Muhammadiyah”, , diakses pada 20 Juli 2009

[10] Maman A. Madjid Minfas, “Muhammadiyah Versi Ahmad Dahlan : Gagasannya Yang Hampir Mati dan Terlupakan”, Majalah Tabligh Vol. 01/No. 12/ Juli 2003, , diakses pada 20 Juli 2009

[11] Maman A. Madjid Minfas, “Muhammadiyah Versi Ahmad Dahlan : Gagasannya Yang Hampir Mati dan Terlupakan”, Majalah Tabligh Vol. 01/No. 12/ Juli 2003, , diakses pada 20 Juli 2009

[12] Maman A. Madjid Minfas, “Muhammadiyah Versi Ahmad Dahlan : Gagasannya Yang Hampir Mati dan Terlupakan”, Majalah Tabligh Vol. 01/No. 12/ Juli 2003, , diakses pada 20 Juli 2009

[13]Herry Mohammad, Dkk, “Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20”, “K.H. Ahmad Dahlan : Pembaru Dari Kauman”, Jakarta, Gema Insani Press, 2006

[14] Herry Mohammad, Dkk, “Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20”, “K.H. Ahmad Dahlan : Pembaru Dari Kauman”, Jakarta, Gema Insani Press, 2006

[15] Herry Mohammad, Dkk, “Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20”, “K.H. Ahmad Dahlan : Pembaru Dari Kauman”, Jakarta, Gema Insani Press, 2006

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s