Review Film: Turtles Can Fly

(20/6/09) Malem minggu yang unik, air mata itu menetes bersamaan pada saat mulut ini tertawa? Sudah dua kali menyaksikan sebuah karya Indah dan mengharukan dari Bahman Ghobadi (sutradara, produser dan penulis skenario asal Iran/kurdi) di metro TV dari film berjudul “Turtles Can Fly”. Film ini benar2 membuatku terinspirasi pada setiap peran dan peristiwa yang ada.

Film yang berjudul asli “Lakposhtha hâm parvaz mikonand” menceritakan sebuah perkampungan pengungsi inlander etnis kurdi yang jauh dari keberadaan akses informasi, pada saat terjadinya perang Amerika-Irak. Dalam film berlatar belakang perang ini, banyak adegan adegan yang bikin kepingkal-pingkal hingga haru biru. Dengan settingan kamera yang sderhana, film ini justru bisa jauh mnajdi kelihatan real dan nyata ketimbang waktu liat efek ato sound saat nonton “Transformer”.
Meskipun berlatar perang, pokok cerita film ini sebenarnya bukanlah pada keganasan pertempuran tentara2 amerika dan irak, ataupun desingan peluru senapan dan pesawat yang saling membombardir satu sama lain. Pusat cerita film ini sbenarnya adalah pada sesosok remaja bau kencur yang dipanggil orang-orang dan sebayanya dengan sebutan “Satelite” yang kemudian naksir dengan anak 13tahun asal suku sebelah (Halabelach) yg bernama Agrin. Satelite ini digambarkan sebagai anak yg sangat Cerdas tapi tengil, punya jiwa leadership dan seorang negosiator ulung (kayak Sutan Syahrir ajah..hehe).

Kemampuannya dalam memperbaiki antena konon membuat para pengungsi kurdi selalu percaya dan yakin bahwa informasi apapun yang keluar dari mulutnya adalah selalu benar. Mikrofon satu-satunya di masjid adalah alat sakti mandragunanya yg bisa menggerakan hampir seluruh suku kurdi di kampung pengungsian itu, hingga suatu ketika mereka semua bisa naik ke bukit menyelamatkan diri setelah berita kemenangan Amerika atas Saddam Husein. Dia pulalah yang menanggung hajat hidup puluhan anak2 korban perang yg sebagaian besar orang tuanya telah tiada. Satu intruksi, satu perintah, maka dengan penuh ketaatan langsung berhamburanlah anak2 kurdi itu melaksanakan apa yg diperintahkannya. (ini yg mungkin namanya Al Qiyadah wal jundiyah..hehehe)

Anak-anak itu bertahan hidup dengan mengais sisa ranjau aktif yang ditinggalkan para tentara perang di ladang. Karena pekerjaannya itulah sebagian dari mereka banyak yang kakinya buntung, tanganya hilang, bahkan matanya buta. Satelite yang memegang kendali di ladang,kemudian menjualnya kepada seorang broker yg nantinya akan menjual kembali kepada tentara2 amerika dengan harga ratusan kali lipat dari harga yg diberikan broker itu kepada anak2 kurdi. Masih ingat sepenggal kalimat yg diucapkan satelite ketika lagi nego dan lobi dengan sang broker, “kenapa anda menjualnya lebih rendah dari harga sebelumnya? Saya tau anda menjualnya ratusan kali lebih mahal kepada orang amerika itu, bahkan harga yg kau tawarkan itu 50 kali lebih rendah ketimbang makanan-maknanan yang biasa mereka (Amerika) berikan kepada anjing mereka? ”….Amazing!!..itu luar biasa untuk seorang anak bau kencur yang juga bisa mengendalikan seluruh manusia kurdi yang ada di kampungnya.

Namun setangguh dan sekuat apapun Satelite, hatinya luluh juga dengan Agrin. (nah sekarang si Satelite kayak Hitler aja..). Dia rela melakukan apa saja buat Agrin, mulai dari memberikan tali yang pd saat itu merupakan barang yg sangat langka di camp, memberikan masker yg dibagi-bagikan gratis utk penduduk guna melindungi dari badai pasir, hingga membawakan air dengan sepeda bututnya yg norak abis itu. Dia juga rela mencarikan ikan emas dengan menceburkan diri ke kolam yg konon kata penduduk telah tercemar limbah dan beracun. Namun begitu ,Agrin yg tidak pernah tersenyum itu selalu menunjukan keengganannya kepada Satelite. Traumatik yg dialaminya ketika seluruh keluarganya ditangkap dan dibunuh, kemudian dia diperkosa oleh tentara-tentara Amerika, sehingga menghasilkan seorang anak laki-laki yang bernama Riga. Riga adalah seorang balita imut dn lucu yang buta, yang hanya punya keinginan untuk melepaskan kura-kuranya supaya bisa terbang di air (ini kali ya kenapa judulnya turtle can fly). Agrin lalu merawat anaknya Riga dan hidup bersama kakaknya Hengov yang buntung kedua tanganya. Hengov adalah seorang anak laki-laki yang ikhlas dan tabah dan mempunyai kemampuan untuk meramal (ya mirip anak Indigo gitu..). Ramalannya yang selalu benar itu telah menyelamatkan anak2 kurdi dari ledakan selongsongan roket pesawat, setelah memberitahukannya kepada Satelite yg langsung memerintahkan puluhan anak kurdi itu turun dari truk pengangkut sisa roket.

Satelite yang sok keamerika2an dan sok bisa2an ngomong inggris itu(bahkan ternyata dia tau bahasa2 pasar gelap..ckckckck..) pernah diminta sesepuh kampung untuk menterjemahkan berita setelah membetulkan antena parabola. Anehnya dengan skill english-nya pas-pasan itu ia justru menerjemahkan berita yang sebenarnya tentang rencana Bush yg akan menyerang Irak, menjadi berita ramalan cuaca. “kata Bush besok akan turun Hujan”, “apa kau tidak salah?, apa lagi katanya” tanya sesepuh itu. “dia bilang besok akan turun Hujan”..hahahaha, ngekek aku mendengarnya..180derajat… benar…benar.. ngawurrrrrrrrrrr!!

Satelite mempunyai tangan kanan bernama Pashow. Pashow yang kaki kanannya telah mati layu karena ledakan ranjau bak manager dan kepala intel dari Satelite yg siap memberikan informasi apapun ketika dibutuhkan. Namun dari sekian banyak karakter yg ada,karakter yang paling membuatku kepincut adalah seorang cowok kecil bernama Shirkooh. Cowok pendek yang superduper cengeng ini merupakan ajudan setia dari Satelite. Entah berapa kali saya menyaksikan adeganya menangis,cengeng, polos, persis anak kecil yng nangis ngerengek2 abis dijahilin temennya, mulai dari saat mencegah anak kurdi lain mengambil sepeda norak si Satelite, lalu setelah berhasil merebut kembali sepedanya, hingga kerelaan dan ketidak tegaannya menawarkan diri untuk menggantikan tuannya menghibahkan kakinya kepada ranjau demi menyelamatkan Riga yang tersesat setelah dibuang oleh Agri yang depresi. Kesetiaannya pada Satelite itulah yang patut diacungi jempol..Saya jadi inget,Barangkali si Shirkooh ini mirip sahabat Rosululloh SAW yaitu Thalhah Bin Ubaidillah r.a (satu dr sepuluh yg dijanjikan Syurga) yang rela meridhakan tubuhnya dengan lebih dari 70 tusukan pedang dan 3 jari tangan yg hilang guna melindungi tubuh Rosullloh dari sayatan pedang ketika perang.

Klimaks dari cerita ini begitu tragis. Adalah ketika Agrin yg tidak tahan lagi dengan penderitaan hidupnya memutuskan untuk menenggelamkan Riga ke kolam. Sebelumnya Agrin gagal menghabisi anaknya yg ditemukan dan diselamatkan oleh Satelite meski harus dibayar dengan kakinya yang berdarah2 dan pincang karena ranjau. Didalam rumah Tank bekasnya, Satelite yang menangis kesakitan diberikan hadiah oleh Pashow potongan tangan patung Saddam Husein dan diberi Shirkoov 2 ekor ikan mas yang dibelikan pamannya. Satelite begitu bahagia dan ceria ketika mendapatkan benda yang pernah dijanjikannya dan yang sangat disukai oleh Agrin, meskipun dia tidak tau apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Agrin.

Dengan mengikatkan kaki Riga dengan pemberat batu, Agrin lalu mencemplungkan batu tersebut ke air. Balita lucu yang buta itu tak berdaya ketika kakinya tertarik batu dan masuk ke air dan meraih-raih nafas terakhirnya hingga meninggal di dalam kolam tanpa kura-kura kesayangannya itu. Agri meninggalkannya, dan mengakhiri hidupnya dengan terjun ke jurang yg sering dia gunakan untuk merenung.

Hengov yg punya intuisi lewat indera keenamnya, terbangun dan segera berlari setelah memimpikan keponakannya Riga, tenggelam di kolam. Hengov yang sampai ke kolam langsung menceburkan diri ke air dan mengendap2 hingga ke dasar.Dia tidak mampu menemukan Riga karena ternyata Riga telah diangkat Satelite yang terlebih dahulu menemukannya..Hengov yang menangis segera berlari sambil terisak-isak menuju ke bukit yang biasa dinaiki Agrin. Ketika sampai puncak bukit dia hanya menemukan sepasang sapatu biru Agrin.

Satelit yang ceria dan begitu obsesif atas kehadiran Amerika untuk membebaskan diri dari kuasa Saddam Hussein, tiba-tiba menyadari bahwa impian para pengungsi untuk kembali ke dunia beradab itu adalah ketakutan terbesar Agrin yang membuatnya tak pernah tersenyum. Sepasang sepatu Agrin yang ditemukan Hengov itu membuat Satelit memalingkan muka dari tentara Amerika yang berparade masuk kota, yang begitu dibanggakannya. Perang itu, Satelit kini memahaminya, semua itu adalah luka.

Dari film tadi menjadi sebuah pertanyaan besar, Adakah sebenarnya kebermanfaatan dari perang itu sendiri? Adakah perang itu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan? Dunia mencatat perang sebagai sebuah agenda biadap yang menciptakan kesengsaraan bagi bangsa yang mengalaminya. Anak-anak yang seharusnya menikmati masa-masa indah keceriaanya tiba-tiba harus menanggung beban hidup yang begitu berat. Inilah pesan utama yang mungkin bisa ditangkap dari alur cerita film. Kalo minta dikasih bintang, saya akan kasih full “FIVE STARS”. Wallohua’lam

(20 juni 2009, Sleman)

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

3 thoughts on “Review Film: Turtles Can Fly”

  1. lupa..ternyata dah pernah liat film-nya…

    lupa juga…telah pernah sesak melihat ending film-nya, tersenyum (*agak getir) melihat tingkah polos mereka, gemes melihat anaknya agrin (yng awalnya tak kira adeknya. Pikirku anak lucu itu sedang bersahabat dengan malaikat)

    lupa juga…gara2 film itu dulu susah tidur…..

    Yups2..thanks telah mengabadikan ceritanya dalam tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s