Diskusi Century Part I: Kronologi dan Sistemik Nonsistemik

Tulisan ini merupakan hasil review dari nongkrong bareng anak-anak KAMMI di kantin Fakultas Kedokeran Hewan UGM. Kami berdiskusi hal ihwal “Bank Century” sejak pukul 16.00 hingga adzan maghrib berkumandang. Banyak hal dan wacana baru yang saya dapatkan dari diskusi ini. Dzon-dzon (prasangka) yang awalnya mengendap di fikiran kini sedikit tercerahkan lewat opini yang terbentuk dalam diskusi tersebut.

Century, sebuah nama yang barangkali tidak pernah kita dengar sebelumnya. Di televisipun kita jarang mendengar nama itu disebut-sebut apalagi menjadi headline dari surat kabar dan media massa. Namun seketika semua itu berubah dalam satu bulan terakhir ketika kita menyaksikan hampir setiap media massa maupun surat kabar berburu berita mengenai skandal maupun keberlanjutan nasib dari Bank yang sedang bermasalah ini. Century ibarat ikan kecil di tengah samudera perekonomian Indonesia dengan banyaknya bank-bank skala besar di sana. Tidak ada orang yang menyangka bahwa Century akan menjadi buah bibir dan masalah yang akan mengguncang birokrat-birokrat esselon I. Masalah Century juga disebut-sebut sebagai akar dari melambungnya skandal “kriminalisasi KPK” yang lantas menyeret pimpinan KPK Bibit dan Chandra menjadi tersangka. Sebelumnya pimpinan KPK Antasari Azhar sudah keduluan menjadi terdakwa dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang juga disebut-sebut berhubungan dengan skandal Bank Century.

Berbicara masalah Bank Century tidak lepas dari awal pembentukan Bank yang juga sudah bermasalah. Bank ini sendiri merupakan hasil merger dari 3 Bank kecil yang sedang bermasalah yaitu Bank CIC, Bank Danpac, dan Bank Pikko. Merger memang salah satu alternatif dari penyelamatan Bank-Bank yang sudah bermasalah. Namun bukan berarti ketika bank tersebut dimerger, masalah akan tuntas hilang. Pada Mei 2004, PT Bank Danpac Tbk dan PT Bank Pikko Tbk telah menandatangani kesepakatan untuk melakukan tindakan hukum penyatuan kegiatan usaha dengan cara penggabungan atau merger dengan Bank Century sebagai bank yang menerima penggabungan, sementara PT Bank Danpac Tbk dan PT Bank Pikko Tbk sebagai bank yang akan bergabung. Pemerintah lalu memasukan Bank CIC ke dalam merger untuk menghindari Bank CIC.

Bank CIC sendiri sudah bermasalah dengan transaksi fiktif surat-surat berharga (SSB) senilai 25 juta dolar AS (Rp 250 miliar) yang melibatkan Chinkara Capital Ltd. Chinkara merupakan pihak yang mengakuisisi Bank Pikko dan Bank Danpac yang dalam tiga tahun terakhir tidak mempublikasikan laporan keuangan dan mempublikasikan proses akuisisi Bank tersebut. Di dalam Bank Pikko sendiri terdapat kredit macet Texmaco yang kemudian ditukarkan dengan Medium Term Notes (MTN) Dresdner Bank. Baik Bank Pikko maupun Bank CIC akhirnya mengalami negative capital adequecy ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal. Hal ini disebabkan terjadinya penarikan dana nasabah (pihak ketiga/DPK) dalam jumlah besar Bank CIC seperti yang dialami oleh Bank Danpac.

Lalu apa itu Capital adequecy ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal? Kata anak ekonomi, CAR ini dibaratkan modal yang harus dimiliki suatu bank untuk dapat melakukan transaksi keuangan dengan nasabah. Nilai CAR harus sekian persen (tidak tahu…8% kayaknya), di atas transaksi keuangan yang dilakukan. Misal jika suatu Bank melakukan transaksi keuangan, baik tarik keluar uang, simpan pinjam atau pembelian surat-surat berharga senilai 10juta, maka Bank tersebut harus memiliki CAR senilai 13 Juta (misal..). Bank Century ini berdiri dan berjalan karena mengklaim memiliki aset surat-surat berharga (SSB) yang di simpan di Bank Swiss senilai 100Juta dolar sebagai jaminan CAR. Inilah yang menjadi dasar berjalannya transaksi keuangan Bank Century layaknya Bank-Bank yang lain.

Pada tahun 2005, Bank Indonesia (BI) mulai menemukan indikasi collapse-nya bank Century setelah menemukan kejanggalan-kejanggalan dari pengelolaan serta nilai aset maupun CAR dari bank Century. Total CAR yang dimiliki Bank Century ketika itu adalah minus 2,35%, hingga akhirnya kontroversi pengucuran 6,7 T itu adalah untul menyelamatkan Bank Century dengan total CAR “minus 132,5%”. Padahal dibawah 8% saja bank sudah akan mendapatkan peringatan dan dilakukan tindakan pengawasan, apalagi “minus 132,5%”, sudah selayaknya mendapatkan sanksi dan denda. Bank dengan kondisi seperti itu secara fisiologis sudah tidak layak untuk berdiri lagi.

Pemerintah dalam hal ini BI telah memberikan peringatan dan memberikan perintah untuk segera mencairkan SSB yang diklaim bernilai 100 juta dolar di Bank Swiss. Bank Century juga menyampaikan bahwa akan segera mencairkannya menjadi uang agar CARnya segera menjadi positif. Namun karena memang dasarnya SSB tersebut adalah fiktif, maka Bank Century urung melakukannya karena memang sebenarnya angka itu tidak ada.

Pada tanggal 14-17 November 2008, BI memberikan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) kepada BC dengan jumlah Rp 689 miliar. Pasca pemberian itu, kinerja dan kondisi Bank Century semakin memburuk. Melalui sebuah rapat tertutup akhirnya BI menetapkan Bank Century sebagai Bank gagal yang diduga berdampak sistemis. BI lalu segera menyampaikan keputusan itu kepada KSSK hari itu juga. 21 November 2008 KSSK juga menetapkan BI bank gagal berdampak sistemis,dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) harus segera tangani Bank Century. 24 November 2008. LPS lantas mulai mengucurkan Penyertaan Modal Sementara (PMS) secara bertahap dengan total nilai Rp 6,76 triliun.
Permasalahan awal adalah perdebatan ketika penetapan Bank Century sebagai Bank gagal yang akan berdampak sistemik ketika tidak dilakukan bailout.

Banyak ekonom yang menyatakan perkara ini merupakan perkara yang debatable alias dapat diperdebatkan maupun didiskusikan. Tidak masalah siapa yang meperdebatkan maupun dengan teori dan rasionalisasi apa yang mereka gunakan. Namun pada dasarnya perdebatan mengenai dampak sistemik atau nonsitemik ini adalah hal yang inkonstitusional, meskipun secara konstitusional Bank diperbolehkan ada bailout jika “dapat” berdampak sistemik. Karena ilmu ekonomi identik dengan prediksi dan asumsi sebelum dilakukan eksekusi.
Pendapat pertama yang menyatakan bahwa Century tidak akan menimbulkan dampak yang sitemik terhadap perekonomian nasional. Ini merupakan pendapat yang diperkirakan akan unggul dalam konteks opini publik. Karena agen-agen yang mengaku independen ini secara gencar mempublikasikan opininya di media. Mereka juga turun ke jalan-jalan mengupayakan reformasi birokrasi dengan “bahasa-bahasa jalanan” yaitu dengan mencopot pejabat-pejabat tertentu. Bank Century hanyalah sebuah bank kecil yang aset dan nilai transaksinnya tidak lebih dari 2 triliun (belum dicek,..). Ibarat luka gores di ujung jari tangan, maka tidak akan terlalu mempengaruhi aktivitas dari organ tubuh lain. Lalu ada dzonniyyah (prasangka)yang mengatakan bahwa ini merupakan upaya balas budi kepada para donatur kampanye partai politik tertentu. Ada juga yang menyangka ada pejabat-pejabat strategis yang disuap untuk mengegolkan kebijakan tersebut. Semua itu belum dibuktikan.

Pendapat yang lebih menonjol pada diskusi ini adalah pendapat yang berlawanan dengan mayoritas opini publik. Bahwa masalah Bank Century cenderung akan mengganggu aktivitas perekonomian nasional. Ibarat duri yang menancap di telapak kaki, kta tidak mengetahui apakah duri itu kotor dan akan menyebabkan infeksi. Bisa jadi infeksi itu menyebabkan kaki kita harus diamputasi (baca:dipotong). Kata kang syarif, dosen ekonominya, yaitu pak…(lupa, tapi bukan pak Boediono), menggunakan teori pertandingan tinju taon 70-an dimana Muhamad Ali tua melawan George Foreman muda . Prediksi pengamat ketika itu mengatakan bahwa Ali akan kalah karena sudah terlalu tua dan mulai menjauhi masa keemasannya, sedangkan Foreman yang ketika itu sedang masa keemasan, muda, dan punya rekor fantastis. Di sepanjang pertandingan Ali dibabat habis, dipukuli secara sporadis, dan para pialang judi sudah bersiap-siap menyambut kemenangan Foreman. Sampai di akhir-akhir ronde, pukulan Ali yang tidak terlalu keras, atau bahkan terlihat pelan, mengenai rahang Foreman dan menjatuhkannya seketika hingga Ali dianggap menang TKO.

Banyak yang berpendapat ketika itu bahwa pertandingan itu merupakan pertandingan rekayasa untuk menaikkan rating di pertandingan selanjutnya. Semua berkata ini adalah bisnis, karena ketika itu tidak ada teknologi replay (reka ulang) yang secara detail menggambarkan kejadian tersebut. Beberapa dekade kemudian, setelah ada teknologi yang memadai, barulah diketahui bahwa pukulan Ali yang pelan mengenai “bagian yang tepat” pada “pada saat yang tepat”. Para ahli menjelaskan teorinya secara detail dengan teori fisika dan anatominya. Ini mirip dengan Century, dimana pukulan kecil Century akan menyebabkan perekonomian Indonesia akan terguncang. Di mana ketika itu dunia sedang menghadapi suatu krisis ekonomi global dimulai dari Amerika Serikat. Sampai-sampai perusahaan/Bank Lehman Brother yang telah ratusan tahun berdiri kokoh terpaksa ambruk begitu pula General Motor (GM) perusahaan mobil terbesar di Amerika Serikat.

Ketakutan akan Phobia masyarakat Indonesia pada suatu isu dikhawatirkan akan merambat tidak hanya pada satu Bank saja, melainkan ke Bank lain. Tentunya kita masih ingat kasus BLBI yang telah merugikan negara lebih dari 600 Triliyun dan seluruh uang tersebut raib entah kemana. Waktu itu isu gencar merebak dan masyarakat buru-buru antri menaik uang mereka secara besar-besaran. Cadangan dolarpun ketika itu menyusut tajam yang mengakibatkan kurs rupiah terhadap dolar melonjak tajam dar Rp.2.500,- menjadi 15.000,-. Apalagi media di Indonesia ini sering tidak berpihak pada stabilitas melainkan pada rating. Masalah sekecil kwacipun kalo itu menarik dan enak akan berubah menjadi sebesar duren. Barangkali Century hanya diperkirakan akan mempengaruhi sekitar kurang 30 Bank lain. Namun bisa jadi kurang dari 30 Bank lain tersebut akan diekspos media secara masif dan intensif dan menjadikan sebuah phobia Nasional baru bagi para nasabah. Ketika pengambilan kebijakan tersebut pada dasarnya tidak ada pejabat yang berani mengambil resiko akan bailoutnya Century. Boediono yang lantas mengambil resiko tersebut dengan mengetok palu pemberian bailout, barangkali bersama phobianya juga.

To be Conitinued… Part II “Sistem Audit dan Infrastruktur Kebijakan Pasca Bailout”
(agam, 1.15pm, 5 Des 09, Seyegan Sleman..)

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s