AIDS : Bukti Ketelanjangan Kultural dan Praktek Budaya Massa

Revolusi seks bebas telah memulai suatu fase liberasi akhlak sosial di dalam masyarakat global. Revolusi ini terjadi sepanjang di tahun 60an- 70an Amerika Serikat pasca Perang dunia II dan naiknya revolusi industri di Inggris. Dari sinilah cikal bakal dari kemunculan kaum “hippies” ataupun “flower generation” yang sudah bosan dengan segala kebijakan konservatif yang mereka nilai tidak sejalan dengan semangat perubahan jaman. Kaum-kaum yang lahir pada zaman itu mencoba mendobrak kekolotan pemerintahan mereka lewat aksi-aksi bebasnya dalam melakukan kritik sosial dan politik lewat “style” masing-masing.

Pada tahun 50-60an tatanan nilai dan budaya benua Eropa dan Amerika masih sangat konservatif. Nilai-nilai budaya baru yang diciptakan oleh para generasi muda pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan dianggap sebagai ide-ide yang subversif dan mengancam. Pada tahun 50-an para seniman di Prancis dan Inggris biasa mengekspresikan karya-karya mereka di “subway” atau stasiun kereta api bawah tanah. Karena mereka tidak pernah diberi akses oleh pemerintah pada fasilitas atau gedung-gedung kesenian pada saat itu. Karena dinilai karya-karya mereka mengandung muatan-muatan pemberontakan pada pemerintahan dan dianggap menghujat nilai-nilai konservatif gereja pada saat itu.

Utamanya pada saat itu di benua Eropa telah mengalami puncak kejayaan dari sebuah revolusi di berbagai bidang kesenian. Sehingga cenderung menolak hal-hal baru karena dianggap bisa merusak tatanan kemapanan yang sudah terbentuk. Sementara kaum mudanya merasakan sebuah kondisi stagnansi dan kebosanan. Setiap malam para seniman-seniman itu berkumpul mengekspresikan berbagai macam karya “avant garde” mereka. Dari mulai pentas musik, teater, seni rupa, puisi, performance art, hingga karya instalasi yang rumit. Mereka saling berekspresi dan saling mengapresiasi satu sama lain. Karya-karya yang dipertunjukan pada saat itu memang hanya diketahui oleh kalangan terbatas. Karya yang diciptakan pada saat itu menjadi semacam “basic” bagi perkembangan semua karya seni yang ada sekarang. Dari sinilah istilah “’underground’” untuk pertama kalinya muncul, lalu adanya “heavy metal”, dan lebih dalam perkembangannya music “rock” lahir dengan karakter yang cadas, bebas, memberontak, dan identik dengan “drugs” dan “sex”.

Produk “ kebebasan sex” dan aliran musik kelahiran 60-an tersebut merupakan sumber dari “budaya massa” yang kini dikonsumsi dan diamini milyaran manusia di dunia. Budaya massa merupakan subkultur dari sebuah budaya yang diadopsi oleh masyarakat global di era milenium sekarang. “Triple F” : Food, fashion, and fun merupakan manifestasi dari munculnya agen-agen budaya massa. Televisi dan internet merupakan mediator terbesar penularan obyek menarik yang satu ini. Masyarakat dunia sekarang tampaknya sudah menghomogen dalam menanggapi inkulturisasi budaya yang masuk tanpa filternya masing-masing. Hanya filter ideologis yang mampu membentengi diri dari masuknya budaya massa.

Sex inilah yang lantas menjadi mediator tersubur penularan penyakit mematikan yang menyerang kaum-kaum pecinta sex bebas secara umum. HIV-AIDS muncul sebagai konsekuensi praktek liberasi akhlak antar pasangan lawan jenis secara ilegal. HIV-AIDS kini telah mengakibatkan kematian 25 juta orang dan saat ini telah terdapat lebih dari 33 juta orang yang hidup dengan HIV. Setiap hari terdapat 7.400 kasus baru HIV atau 5 orang per menit dan 96% di antaranya merupakan populasi di negara berkembang termasuk di Indonesia.

Perdebatan mengenai kemunculan HIV-AIDS sebenarnya bukan merupakan referensi dari sumber penyelesaian masalah. Wangari Maathai, ekolog Kenya yang memenangkan Nobel Perdamaian, menyampaikan bahwa virus HIV-AIDS sengaja dijadikan agen biologis sebagai agen pertahanan dan penghancurkan ras kulit hitam. Faktanya sekarang virus ini telah ditemukan dalam 8 strain yang dapat menyerang manusia dari ras apapun. Tindakan “preventif” perlu secara intensif digalakan karena penanganan secara “kuratif” belum ditemukan.

Menkes Endang mengatakan, penanggulangan HIV/AIDS memerhatikan nilai-nilai agama dan budaya serta norma kemasyarakatan. Terdapat upaya terpadu peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan dan perawatan berdasarkan fakta ilmiah, serta dukungan terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Pemerintah akan menyiapkan reagent HIV untuk pengamanan darah (950.000 tes), surveilans (200.000 tes), dan diagnostik (1 juta tes). Saat ini jumlah layanan voluntary, counseling, and testing telah tersebar di 190 rumah sakit, 14 rumah sakit jiwa, 119 puskesmas, 115 lembaga swadaya masyarakat, dan 30 lembaga pemasyarakatan.

Semua itu merupakan penanggulangan teknis dalam perilaku pencegahan penularan HIV-AIDS. Di atas semua itu, proses ketelanjangan kultural merupakan kunci permasalahan umum dalam indoktrinasi budaya massa penyebab sex bebas. Persoalan ketelanjangan kultural lebih dalam pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari persoalan sistem demokrasi, khususnya demokrasi liberal sebagaimana dianut di Amerika Serikat. Ketidaksiapan masyarakat hidup di dalam ketelanjangan budaya sama artinya dengan ketidaksiapan mereka untuk hidup di alam demokrasi liberal.

Demokrasi liberal sendiri merupakan perkusor dari sistem Kapitalisme. Kapitalisme dalam bentuknya yang sekarang adalah sebuah sistem yang tidak berlandaskan pada keyakinan apapun, baik tentang Tuhan, sosial, kultural, moral, atau apapun, kecuali satu keyakinan, yaitu keyakinan terhadap kapital. Oleh sebab itu pembiakan kapital bukanlah urusan dengan Tuhan atau moral, melainkan adalah cara bagaimana kapital diakumulasikan dengan berbagai cara untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya bagi individu maupun golongannya.

Lalu apakah bangsa kita memerlukan demokrasi liberal yang memiliki fondasi semacam itu? Padahal basis sosial masyarakat kita adalah masyarakat yang taat akan nilai-nilai sosial, budaya dan keagamaan dan banyak memberikan pengaruh pada aktivitas berbangsa dan bernegara. Ketidakpastian masyarakat untuk masuk ke alam demokrasi liberal hendaknya tidak diartikan, bahwa mereka lebih terbelakang dari masyarakat liberal. Karena ada mitos yang berkembang, bahwa kemajuan sebuah bangsa hanya bisa terjadi bila bangsa itu menganut prinsip demokrasi liberal dan sistem ekonomi kapitalisme. Padahal, dalam realitasnya banyak bangsa yang maju tanpa keduanya, seperti Jepang. Jepang memiliki kemiripan dengan Indonesia dimana mereka senantiasa mengagungkan nilai-nilai budaya mereka yang mampu diarahkan secara baik dan benar tercermin dalam etos kerja.

Persoalan ketelanjangan budaya adalah persoalan yang sama paradoksnya dengan budaya massa dan kapitalisme, oleh karena ia telah menjadi sebuah sistem global (kapitalisme global, liberalisme pasar, televisi global, internet), sehingga setiap orang yang ingin masuk ke dalamnya harus masuk ke dalam sistem ketelanjangan budaya tersebut, atau ia sama sekali menolaknya.

Inilah yang seharusnya menjadi ujung tombak penanggulangan HIV AIDS di Indonesia. Bukan kondom atau jargon say no to drugs, bukan mencari obat mujarab atau pencegahan pemakaian jarum suntik yang sama. Moralitas merupakan aspek terpenting dalam penanggunglangan terjangkitnya HIV AIDS di Negara kita. Karena memberantas penyakit itu tidak dimulai dari mengobati tapi mencegahnya, dan mencegah penyakit itu tidak dimulai dari media penularan, melainkan sifat dan perilaku manusia yang bertendensi mengakibatkan terjangkitnya penyakit. Hipotesis Tahun 2020 selaras dengan perdagangan bebas bahwa nilai etika, ahklak, moral di Indonesia sudah tidak ada, agama tidak berfungsi, pernikahan tidak berguna yang terjadi adalah revolusi seks bebas yang merata. Ini merupakan sebuah kegoncangan sosial yang harus dicegah. Semoga saja tidak terjadi.

Referensi: (saya cari-cari ilang di file word yang asli..insyalloh ndak ngarang :))

(agam, 3Des09, 9.56am)
Info: Minggu, tanggal 6 Desember 2009, Kelanjutan dari Hari HIV AIDS sedunia 1 Desember, CIMSA Fak. Kedokteran UGM, akan menggelar aksi longmarch dari FK UGM – Sunday Morning Boulevard UGM.

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s