Hakikat Tarbiyahku

Ini adalah sebuah tulisan yang singkat, tulisan dengan pemahaman yang sederhana, dalam rangka memfahamkan diri sendiri mengenai orisinalitas garis perjuangan sebuah gerakan islam pasca Turki Ustmani, yang kita mengenalnya dengan sebutan “harokah tarbiyah”. Disadari atau tidak gerakan ini turut pula memegang peran penting dalam membesarkan karakter dan pemikiran-pemikiranku dalam kurun 2 tahun terakhir, di dalam sebuah selubung makrokosmos yang aku sebut “dakwah tauhid”.

Maka dalam rangka mengharapkan ridho Alloh SWT tulisan ini kupersembahkan kepada Sang Pemilik Jagad Semesta yang senantiasa memberikan kenikmatan yang tak henti-hentinya dan selalu memberikan petunjuk jalan yang aku yakini sebagai jalan dakwahku. Tulisan ini lalu aku bagikan kepada saudara-saudaraku yang kucintai, yang barangkali sempat, pernah, ataupun masih berada dalam lingkaran terbiyah, atau saudaraku yang pernah atau sering mendengar mengenai jama’ah dakwah ini. Semoga “dzon-dzon” atau prasangka yang selama ini sempat bersemayam ataupun pemahaman saudara-saudaraku yang tidak sesuai dengan “ashollah” dakwah ini dapat diluruskan. Dan semoga, kita sebagai para perindu syurga, dengan mimpi-mimpi para syuhada, dan niat ikhlas untuk keridhoan sang maha Pencipta, bisa bersama-sama membangun sebuah peradaban yang kita mimpikan bersama-sama, peradaban islam yang “kaffah”.

Dimulai dari kalimat “Tarbiyah memang bukanlah segala-galanya, tetapi segala-galanya bisa diraih melalui tarbiyah” (Al I’tishom Alath Thoriq – Syaikh Mustafa Masyhur)

Ungkapan tersebut adalah perkataan dari seorang tokoh yang juga seorang mursyid aam ke-lima gerakan Islam terbesar di abad modern ini Ikhwanul Muslimin. Dengan kalimat yang beliau ucapkan, beliau ingin mengajak kita lebih dalam untuk merenungkan tentang peran sebuah konsep yang sangat fundamental dalam kehidupan pergerakan dakwah. Dan pergerakan tersebut dikenal di Indonesia dengan gerakan tarbiyah.

Menurut seorang ahli bahasa arab bernama Abdurrahman An-Nahlawi, tarbiyah adalah terdiri atas tiga akar kata. Pertama “raba-yarbu” yang maknanya bertambah dan berkembang. Kedua, “rabiya-yarba” yang bermakna tumbuh dan berkembang. Ketiga, “rabba-yarubbu” yang berarti memperbaiki, mengurusi, mengatur, menjaga, dan memperhatikan. Maka tarbiyah di sini merupakan sebuah proses yang berjalan secara berkesinambungan dan continued dalam melakukan perbaikan terhadap kondisi umat secara menyeluruh. Kondisi di sini merupakan definisi dari situasi tarbawi, ruhyah, dan kefahaman seseorang menyangkut aspek keimanan dan ketakwaan. Jadi kader yang dibentuk melalui proses tarbiyah adalah kader yang diharapkan bisa mengalami perbaikan secara menyeluruh dalam diri pribadi.

Maka filosofi seorang kader tarbiyah dari segi etimologis tersebut bermakna bahwa kesejatian seorang kader dakwah tarbiyah adalah sebuah kesinambungan dalam peningkatan kapasitasnya, baik yang bisa dikuantifikasikan maupun yang sekedar diukur secara indikator kualitas. Maka seorang kader tarbiyah ideal yang sejati adalah seoang kader yang cerdas, kuat, mereka yang selalu terjaga sholat wajibnya, teroptimalkan amalan sunnahnya, tertingkatkan “kafa’ah ilmiyah” serta syar’iyah-nya, berusaha meningkatkan jumlah hafalan Al-Qur’annya dan sebagainya, yang pada intinya selalu menunjukkan grafik yang senantiasa mengalami perkembangan yang progresif.

Syaikh Hasan Al Banna dalam Risalah Pergerakannya, menyampaikan tujuan dari tarbiyah adalah “terbatas” pada pembentukan generasi baru, yakni kaum yang beriman yang berpegang teguh kepada ajaran-ajaran islam yang benar dimana generasi tersebut akan bekerja untuk memformat umat manusia dengan format islam dalam seluruh aspek kehidupannya. Maka disimpulkan tujuan tarbiyah islamiyah secara global adalah menciptakan kondisi yang kondusif bagi manusia untuk dapat hidup di dunia secara “hanif” dan “ahsan”, serta hidup di akhirat dengan naungan ridho dan pahala dari Alloh SWT.

Kondisi ini hanya akan tercapai ketika seorang manusia telah secara kaffah memahami dan menerapkan prinsip-prinsip islam berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah Rosul. Prinsip-prinsip tersebut menyangkut beberapa perkara antara lain masalah ibadah, muamalah, adab, hukum, kekhalifahan, dan khilafah islamiyah. Penerapan prinsip-prinsip tersebut tidak akan terlaksana secara utuh manakala lingkungan yang tidak maksum dan proses pembinaan tidak dilakukan. Proses pembinaan, pembelajaran,dan pemfahaman yang istiqomah akan menciptakan pribadi jamaah yang kaffah pula. Maka tarbiyahlah yang akan membersamainya dan lantas membentuk sebuah kekuatan diri seorang muslim yang sebenarnya. Kekuatan seorang muslim yang berupa aqidah dan keimanannya, kesatuan dan persatuannya, kemudian fisik dan senjatanya. Seorang muslim yang berjamaah belum akan dikatakan kuat ketika belum memiliki unsur- unsur kekuatan tersebut.

Pembentukan karakter muslim inilah yang menjadi kunci dari gerakan tarbiyah. Tarbiyah bukanlah sebuah gerakan ekspansi reformasi sosial, politik, hukum, maupun budaya. Namun tarbiyah adalah sebuah gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang akan membentuk karakter positif kadernya dalam membangun sebuah jaringan dakwah yang besar dalam melakukan perbaikan umat dan pengembalian aspek sosial, politik, hukum, dan budaya ke dalam sistem islam yang telah disyari’atkan Rosululloh SAW.
Bahwa kemudian ada tahapan-tahapan dakwah tarbiyah yang dikenal dengan mihwar, yaitu, sya’bi, tanzhimi, muasasi, dan dauli, adalah sebuah konsep yang membantu proses pembinaan dalam menyesuaikan situasi politik dan sosial seperti arus zamannya. Bahwa kemudian ada yang kita kenal dengan “marotibul amal”, kaidah dakwah yang disebut “arkanul bai’ah”, maupun perkara-perkara yang wajib diyakini dalam “usul isyrin”, itu semua merupakan sebuah ijtihad seorang muslim yang telah mempunyai “kafa’ah islamiyah” yang komperhensif dan telah mengalami fase-fase tarbiyah di dalamnya untuk memperkuat fondasi karakter kader tarbiyah.

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. … (QS. 5. Almaaidah:49).

Sekali lagi bahwa tujuan tarbiyah sebenarnya “terbatas” pada pembentukan generasi baru kaum beriman yang berpegang pada ajaran Islam yang benar, dimana generasi tersebut akan bekerja untuk membentuk sebuah bangunan peradaban umat dengan “shibghah islamyah” dalam semua aspek kehidupannya.

“Shibghah Allah dan adakah shibghah yang lebih baik dari shib-ghah Allah?” (AI-Baqarah: 138)

Jalan yang ditempuh oleh gerakan untuk mewujudkan tujuan itu terbatas pada pengubahan tradisi global kehidupan masyarakat dan pembinaan para pendukung dakwah dengan ajaran Islam ini. Sehingga orang-orang ini akan menjadi suri teladan bagi yang lainnya dalam hal memegang prinsip, memelihara, dan menegakkan nilai atas hukum-hukum islam. Mereka selalu menempuh langkah tersebut dalam mencapai tujuan sehingga mereka meraih keberhasilan dengan kepuasan hati dan sepenuh rasa syukur kepada Alloh SWT. Sehingga benarlah bahwa manhaj yang dipakai oleh gerakan ini bersumber pada kemurnian Al Qur’an dan Sunnah.

Maka kemudian karakter dakwah gerakan tarbiyah tersebut disampaikan oleh Syaikh Hasan Al Banna secarah futuh dalam Muktamarnya yang ke lima. Adalah sebagai gerakan “Dakwah salafiah”, yaitu kader tarbiyah yang berdakwah untuk mengajak kembali (bersama Islam) kepada sumbernya yang jernih dari kitab Allah dan sunah Rosul-Nya. “Thariqah suniyah”, yaitu kader tarbiyah yang membawa jiwa mereka untuk beramal dengan sunah yang suci,khususnya dalam masalah aqidah dan ibadah semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan mereka. “Hakikat shufiyah”, karena kader tarbiyah memahami bahwa asas kebaikan adalah kesucian jiwa, kejernihan hati, kontinyuitas amal, berpaling dari ketergantungan kepada makhluk, mahabah fillah dan keterikatan kepada kebaikan. “Hai’ah siyasiyah”, karena kader tarbiyah akan menuntut perbaikan dari dalam terhadap hukum pemerintahan, meluruskan persepsi yang terkait dengan hubungan umat Islam terhadap bangsa-bangsa lain di luar negeri, mentarbiyah bangsa agar memiliki ‘izzah, dan menjaga identitasnya. “Jama’ah riyadhiyah”, karena seorang kader tarbiyah sangat memperhatikan masalah fisik dan memahami benar bahwa seorang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada seorang mukmin yang lemah.

Dasar-dasar ini perlu dibangun dengan sebuah metode dan konsepsi yang jelas agar dapat terarah dan dihasilkan efektifitas yang tinggi. Maka dibutuhkanlah sebuah penyangga kokoh untuk memperkuat gerakan tarbiyah dalam pembentukan karakter umat yang komperhensif. Penyangga ini diijtihadkan dalam konsep berupa pilar-pilar pokok gerakan yaitu pilar “tarbawi” (pembinaan) dan pilar “tanzhimi” (institusional). Pilar tarbawi terdiri dari pola belajar-mengajar dengan beragam perangkatnya yang bertujuan menyempurnakan potensi pribadi muslim dan mengubahnya ke kondisi yang lebih baik agar mampu berinteraksi dengan hidup dan kehidupan. Dengan begitu dapat menciptakan kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat kelak. Pilar tanzhimi terbagi menjadi pilar internal dan eksternal. Internal dalam artian mengatur adab dan kode etik antar jamaah dan hubungannya dengan masyarakat maupun penguasa. Sedangkan eksternal menetapkan batasan hubungan antar negara, aturan, sistem, dan nilai. Pilar-pilar ini menjadi pijakan untuk membantu seorang kader tarbiyah dalam membangun dan meningkatkan kualitas diri serta dalam menerapkan adab dan etika dalam berdakwah. Lalu kesatuan pilar-pilar tersebut yang akan membantu dalam mengembangkan potensi individu maupun jamaah dalam ekspansi gerakan dakwah kepada umat manusia.

Kekuatan dalam pembentukan karakter berpijak pada pilar tersebut akan dimanifestasikan dalam bentuk sarana yang disebut perangkat-perangkat tarbiyah. Perangkat-perangkat tersebut antara lain usrah, katibah, rihlah, mukhayam atau mu’asykar, daurah, nadwah, dan muktamar. Masing masing perangkat ini memiliki tujuan, etika, syarat, dan rukun-rukun yang pelu difahami lebih mendalam. Perangkat-perangkat tarbiyah ini akan terus dijalankan secara permanen kepada seorang kader tarbiyah. Pola-pola tarbiyah yang terarah dan tenang akan senantiasa memberikan pengaruh yang positif laksana setetes air yang terus menerus menetes dari sumbernya mencari tanah yang subur. Ia akan memberikan kehidupan dan pertumbuhan yang tek pernah henti, dan akan menghanyutkan segala rintangan dan kendala di hadapannya. Maka menjalankan gerakan tarbiyah ini sesuai dengan khittohnya adalah sebuah keharusan. Dan menjalankan agenda terbiyah berdasarkan perangkatnya merupakan sebuah alat untuk mencapai kesuksesan dalam membentuk karakter tarbiyah yang ideal.

Sebuah Kutipan dari risalah pergerakan yang sangat terkenal adalah “ nahnu du’at qobla kulli syai’ ”, kita semua adalah seorang da’i, seorang penyeru, seorang mujahid dakwah, sebelum kita menjadi segala sesuatu, sebelum kita menjadi seorang dokter, akuntan, saudagar, politisi atau apapun itu, maka seruan-seruan akan kalimatullah adalah merupakan sebuah kewajiban dan keniscayaan bagi kita semua. Maka terbentuknya jaringan yang sangat besar ini adalah sebuah jaringan yang dihuni oleh orang-orang shalih yang senantiasa berbuat untuk perbaikan umat, bangsa, dan negara.

Terakhir, Syaikh Hasan Al-Banna, menyiratkan akan hakikat tarbiyah ke dalam sebuah ungkapan, ”Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari”. Berlandaskan pada filosofi tersebutlah maka gerakan tarbiyah ini lalu diwujudkan. Adalah semangat untuk memperbaiki diri, membentuk keluarga Islami, masyarakat Islami, negara Islami, daulah dan khilafah islamiyah adalah sebuah titik akhir sebagai parameter keberhasilan gerakan dakwah ini. Kesemuanya itu adalah langkah strategis dari amalan yang kita yakini dan akan kita perjuangkan hingga Islam mampu menjadi soko guru dan ustad bagi peradaban umat manusia.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (AI-Ankabut: 69)

Wallohu a’lama bisshowwab.

Referensi:
– Al Qur’anul karim
– Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, 1992, Bandung: Diponegoro
– Ali Abdul Halim mahmud, Perangkat tarbiyah Ikhwanul Muslimin, 2009, Solo: Eraintermedia
– Hasan Al Banna, Majmu’atur Rasail II
– Mustafa Ma syhur, Bekal Dakwah (Zaadun Alath Thariq), 2007, Jakarta Al I’tishom Cahaya Umat
– Risalah Muktamar al Khamist (1347-1358 H.)

(Agam, Sleman, 5 April 3.30am,dalam rangka memfahamkan diri)

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s