Dosa Besar Rokok

Bara-bara api, aku pula noktah keputus-asaan
Terpelanting dari biduk melayang-layang penuh harap
Kadang terdampar membosankan
Ia kadang embun lembut menyegarkan

Bara-bara api itu seolah hinggap bebas meretas ke setiap paru-paru manusia yang dilewatinya. Entah mengapa beberapa manusia terhipnotis oleh pesonanya sehingga selalu merasakan kesejukan layaknya ditetesi embun lembut yang menyegarkan ketika menikmatinya. Serasa tak pernah merasakan sakit dan rugi ketika menghisapnya, para pecintanya akan terus menyedotnya tanpa khawatir bahaya sedang mengancamnya. Itulah rokok, sebuah bungkusan kertas berdiemeter lima mili dengan panjang sembilan sampai sepuluh senti, atau definisi apapun sejenisnya itu. Yang jelas berhala kasat mata ini telah banyak memperburuk kualitas hidup umat manusia dan merenggut nyawa manusia tidak hanya di Indonesia saja tapi di seluruh dunia.

Terlalu berbahayanya racun mengerikan ini sehingga setiap manusia wajib mewaspadai aksi-aksi brutalnya. Amat banyak potensi-potensi merugikan yang akan dihasilkan ketika dekat dengannya sehingga setiap orang harus menjaga jarak sejauh-jauhnya. Pun begitu masih banyak orang yang terlena oleh kepuasan singkat yang dijanjikannya. Inilah wajah-wajah manusia yang dibutakan oleh nikmat semu sepuntung rokok.

Begitu banyak penelitian tentang bahaya rokok bagi perokok aktif maupun perokok pasif. Jika di etiket rokok selalu ada peringatan bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin, maka sesungguhnya masih banyak penyakit lain yang mengancam. Penyakit lain itu seperti penyakit ginjal, katarak, Stroke-demensia vaskuler, penyakit pembuluh darah tepi, leukimia, dan aneurisma aorta abdominal . Sedangkan tiga penyakit utama yang disebabkan rokok antara lain kanker paru-paru, penyakit jantung iskemik, dan penyakit paru obstruktif menahun (PPOK) . Penyakit-penyakit inilah yang akan secara dominan mengancam keberadaan kita untuk hidup lebih layak dan lama di dunia.

Rokok mengandung bahan-bahan berbahaya yang bahkan mendapat peringatan kewaspadaan dalam penggunaannya di laboratorium hingga skala industri. Bahan-bahan tersebut digunakan untuk bahan teksil, cat, pembersih lantai hingga racun tikus. Bahan ini memiliki sifat karsinogenik, toksik, hingga radioaktif. Bahan-bahan berbahaya tersebut antara lain aseton, hidrogen sianida, m-toluidin, naftilamin, karbonmonoksida, benzopiren, viniklorida, ammoniak, uretan, toluen, arsen, dibenzakridin, dan polonium . Tidak terbayangkan zat-zat mengerikan itu masuk dan membredeli tubuh kita sedikit demi sedikit.

Tercatat bahwa racun mematikan ini setidaknya telah merenggut satu nyawa tiap delapan detik di setiap harinya , selain itu juga menyebabkan kematian dini atau prematur pada 50% konsumennya . Di Amerika Serikat sendiri, setiap tahunnya diperkirakan terjadi kematian sekitar 440.000 orang akibat rokok, belum termasuk biaya penangaan kesehatan sakit . Di Indonesia sendiri 427.948 orang perokok meninggal di Indonesia, dalam setahun. Angka ini setara dengan 22,5 persen total kematian di Indonesia . Betapa bodohnya sebuah bangsa jika membiarkan pembunuh berdarah dingin tersebut masuk dan berkeliaran tanpa ada yang mencegah dan mengendalikannya. Semua itu merupakan fakta yang menyedihkan melihat belum adanya tindakan yang serius guna menyelesaikan permasalahan rokok. Diatambah lagi biaya konsumsi tembakau di Indonesia tiap tahun mencapai Rp 130 triliun. Terlalu kecil ketimbang penerimaan cukai tembakau tiap tahun sekitar Rp 16,5 triliun . Itu semua belum termasuk biaya penanganan penyakit akibat tembakau yang merupakan bahan dasar pembuatan rokok. Kerugian materiil ini semakin menambah catatan hitam bagi rokok di Indonesia.

Industri rokok mulai berkembang di Indonesia di sekitar tahun 1975. Diawali dari terjadi penurunan angka konsumsi rokok secara drastis di Amerika Serikat di tahun 1970-an, karena meningkatnya kesadaran mutu kesehatan di negara itu. Maka, sejak 1975 mereka membuka pasar luar negeri, terutama kepada negara-negara berkembang yang mayoritas belum sadar akan bahaya rokok bagi kesehatan. Upaya tersebut itu mendapat dukungan pasca negosiasi pemerintah Amerika Serikat dengan negara lain berdasarkan perjanjian GATT. Di antara empat negara Asia yang dibujuk untuk mengimpor rokok AS, hanya Thailand yang berani menolak atas alasan melindungi kesehatan rakyat yang sah menurut GATT . Indonesia akhirnya menyerah tanpa kepadaAS dan membuka pintu seluas-luasnya industri rokok AS ke Indonesia. Mereka bebas mengiklankan rokok tanpa ada batasan meski di negaranya banyak dibatasi. Maka jangan heran, kenapa perkembangan rokok begitu progresif di negara kita, kenapa rokok begitu sulitnya sulit diberantas.

Kerugian yang diakibatkan rokok sama besar dan bahayanya jika dibandingkan dengan narkoba. Rokok juga disebut-sebut sebagai racun legal dan biang keladi dari dampak kecanduan narkoba. Bahkan sifat adiktif rokok jauh melebihi sifat adiktif yang diakibatkan oleh jenis-jenis narkoba lain . Jangan sekali-kali melupakan bahwa berdasarkan definisi narkoba yang mencakup narkotika, psikotropika, dan zat adiktif, maka rokok juga tergolong di dalamnya. Maka menjadi sebuah hal yang lucu dan ironis ketika pemerintah menggalakkan program-program antinarkoba akan tetapi tetap melanggengkan peredaran rokok di Indonesia.

Kita tentu tidak akan mengorbankan harga diri dan martabat bangsa demi membela sebuah industri pesakitan itu. Industri bermental sakit yang geliatnya semakin menjadi-jadi dengan berkedok beasiswa, bantuan sosial, mengurangi jumlah pengangguran,dan berbagai macam trik konyol yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang menyadarinya saja . Betapa lugu dan naifnya ketika kita menganggap agenda tersebut merupakan sebuah agenda yang positif bukan politis.

Mafia DPR juga merupakan sasaran empuk para industri rokok untuk tidak meloloskan undang-undang pengendalian tembakau seperti yang telah diterapkan oleh negara-negara maju dan berkembang selain Indonesia. Sebagian dari omset Industri rokok yang menggiurkan cukup untuk mengunci mulut para mafia DPR untuk tidak meloloskan undang-undang pengendalian tembakau. Terbukti kasus penghilangan pasal 113 ayat 2 yang merupakan pasal pengamanan zat adiktif yang mencantumkan tembakau sebagai bahan yang wajib diamankan dan diwaspadai . Ini semua merupakan bukti adanya konstelasi terselubung untuk memuluskan peredaran rokok di Indonesia.

Namun demikian optimisme untuk menyelesaikan masalah ini harus terus distimulasi. Perlu adanya tindakan yang tegas dan kemauan (political will) yang keras dalam penerapan strategi-strategi jitu. Indonesia sebenarnya telah melakukan sebuah langkah jenius dalam penanganan masalah kesehatan dengan menetapkan visi Indonesia sehat 2010 pada tahun 2003 lalu . Pemerintah juga telah membuat pedoman penatalaksanaan hingga indikator-indikator yang ditetapkan secara jelas. Namun ternyata aspek-aspek yang mampu mendukung terlaksananya sistem ini belum terkelola dengan baik. Visi dan misi yang begitu canggihnya akhirnya seperti hanya mimpi di siang bolong. Keinginan untuk mereformasi kesehatanpun seakan bias begitu saja dikarenakan sumberdaya yang tidak terarah dan sulit digerakkan.

Salah satu fondasi awal yang harus dibangun adalah kekuatan undang-undang dalam usaha-usaha pelarangan beredarnya rokok di negeri kita. DPR dalam hal ini telah melakukan langkah positif dalam penetapan undang-undang kesehatan yang baru meskipun kontroversi penghilangan ayat tembakau belum selesai diusut. Berawal dari upaya deklarasi undang-undang yang masih cukup longgar, maka kedepan akan ada upaya-upaya dalam memperketatnya hingga menjadi sebuah konstitusi yang tegas melarang rokok di Indonesia. Fondasi utama ini juga perlu dibarengi dengan adanya kebijakan publik (public policy) yang efektif sebagai bentuk representasi dari usaha penyelesaian masalah rokok.

Tentunya pemerintah bisa belajar dari negara-negara lain yang sukses besar menanggulangi rokok. Misal di Jepang kebijakan publik mengenai rokok meliputi pencabutan iklan rokok dan larangan orang merokok di tempat umum dan kantor swasta, sementara aturan mengenai batas usia pembeli rokok harus di atas 18 tahun dan tulisan peringatan bahaya rokok pada kemasan akan lebih dipertegas. Ada lagi mengenai larangan rokok sambil berdiri. Contoh lain pemerintah Spanyol yang memperbolehkan merokok di tempat kerja yang hanya diizinkan di ruangan berventilasi khusus yang disebut daerah merokok. Mereka yang melanggar peraturan tersebut diancam denda sebesar 600.000 euro (783.000 dolar AS) . Kebijakan-kebijakan ini mungkin tidak populer namun jika dijalankan dan dijaga secara intensif maka hasilnyapun akan terlihat.

Di Indonesia pelarangan merokok di tempat atau fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan merupakan sebuah langkah maju dalam penerapan kebijakan publik. Sayangnya kekurangan dari Pemerintah adalah mengenai mobilisasi isu dan kebijakan. Pemerintah tidak secara serius membangun infrastruktur-infrastrukrtur yang bersifat informatif dan solutif. Apakah pernah kita menyaksikan pemerintah menayangkan iklan di televisi mengenai larangan merokok ditempat-tempat tertentu serta sanksinya? Apakah kita pernah melihat poster-poster besar, spanduk, maupun baliho mengenai kebijakan baru dalam pelarangan rokok? Atau apakah pemerintah pernah membuat tempat khusus yang disediakan bagi para perokok. Hal-hal seperti inilah yang harus mulai digalakkan oleh pemerintah.

Namun demikian semua itu akan menjadi sia-sia belaka ketika tidak dibarengi dengan upaya penegakan hukum (law enforcement ) secara tegas dan benar. Budaya saling mengingatkan, melaporkan, dan mencegah pelanggaran hukum masih rendah tingkat kesadarannya. Inilah jawaban nyata mengapa seringkali penerapan sistem itu seringkali tidak berjalan dengan mulus di Indonesia. Manusia di Indonesia seringkali tidak integratif dan komperhensif dalam menyelesaikan suatu masalah.

Kita memahami bahwa dalam hal penanganan kesehatan, Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan Malaysia, Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan negara lain di kawasan Asia. Negara-negara tersebut sudah mampu keluar dari krisis dan kini telah berisap menata diri untuk menyambut permainan globalisasi dan ASEAN Free Trade Area (AFTA) . Jika Indonesia tidak mampu untuk mempersiapkan diri secara cepat, maka Indonesia akan segera tergerus atau terlindas oleh arus globalisasi yang penuh kebebasan dan keterbukaan.

Negara-negara tersebut tidak hanya melakukan perbaikan sistem dan penerapan strategi saja, mereka juga melakukan penyelarasan pola pikir individu dan pembenahan kepastian hukum. Jepang berhasil mengejar ketertinggalannya dengan Barat melalui gerakan kualitas, kaizen, dan gerakan pembaharuan lain. Korea mampu bersaing di pasaran internasional dengan program survival atau quantum . Indonesia sebenarnya dapat mengikuti jejak kedua bangsa itu, mengejar ketertinggalan melalui gerakan penyelarasan mainset (mindset alignment movement). Inilah makna penting dari proses ideologisasi.
Proses ideologisasi harus ditanamkan sejak dini kepada seluruh masyarakat terutama remaja.

Penanaman nilai-nilai kebencian terhadap rokok harus dilaksanakan dan dijaga konsistensinya. Praktek ideologisasi ini dapat dilaksanakan seperti kewajiban untuk menyertakan kurikulum mengenai rokok pada sekolah-sekolah mereka hingga dengan melakukan penayangan iklan maupun acara televisi yang khusus membahas mengenai rokok. Apabila segala sesuatunya dilaksanakan secara komperhensif dan intensif maka proses ideologisasi ini juga bisa efektif untuk menanggulangi berkurangnya angka loyalitas perokok di Indonesia. Selama mentalitas itu belum dirubah dan diperbaiki secara benar, selama itu pula kualitas sumber daya manusia kita tidak akan mengalami perubahan besar. Inilah makna dari manusia yang terintegrasi.

Kini tidak hanya pemerintah maupun wakil rakyat saja, rakyat jelata sampai orang berada juga memiliki tanggung jawab moral dalam usaha penanggulangan masalah rokok. Generasi muda yang merupakan harapan dan tumpuan dari bangsa dan negara harus segera diselamatkan dari benda mematikan itu jika kita masih menginginkan kemajuan bangsa dan Negara Indonesia di masa depan.

Referensi:
The principle karya Muhammad Ulinnuha, 2002
Willigendael EM et al. J Vasc Surg. 2004;40:1158-1165.
Surgeon General’s Report. The Health Consequences of Smoking. 2004
http://www.foxitsoware.com/ diakses november 2009
IAKMI, Susenas, GYTS, WHO, Komnas Pengendalian Tembakau, 2009
Kompas, Perang Rokok RI-AS, 27 Juni 2009

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

2 thoughts on “Dosa Besar Rokok”

  1. pernah liat bungkus rokok di luar negeri???let’s say Marlboro di Thailand…mereka tidak cuma mencantumkan kalimat “merokok berbahaya bagi bla bla bla…” tapi juga menampilkan gambar yang “menakutkan”. Saya ga tau kalo itu di terapkan di Indonesia apakah akan berhasil menekan jumlah perokok juga atau tidak, karena seperti juga hukum yang bekerja di ruang yang TIDAK hampa…ada banyak faktor yang bisa jadi alasan orang merokok atau tidak, saya misalnya…saya berhenti merokok karena janji pribadi saya dengan Tiuhan. Saya yakin tidak ada orang yang tidak menyadari bahaya merokok…tapi kadang itu terkalahkan dengan “nafsu”.

    nice to know your blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s