Ada komersialisasi di kampus UGM

boulevard UGM
boulevard UGM
Hangat menyelimuti trotoar-trotoar selatan Graha Sabha Pramana, tadi siang, Rabu, 4 Juni 2009 pukul 10.15WIB, rombongan aksi dari “Aliansi Mahasiswa Peduli UGM (AMPU)” menggelar aksi menuntut dihapuskannya praktek-praktek komersialisasi yang terjadi di kampus UGM. Aksi ini dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai elemen, antara lain, HMJ FISIPOL UGM, BEM F.TEKNIK UGM, BEM F.KEHUTANAN UGM, KAMMI KOMSAT UGM, HMI MPO,dll. Aksi diawali dengan longmarch dari boulevard UGM dan bunderan UGM dengan membagi-bagikan selebaran yang berisi opini dan tuntutan mahasiswa kepada rektorat. Sebuah realitas yang mencoba dikritisi oleh generasi-generasi muda, bahwa tingginya kearifan luhur yang telah diwariskan nenek moyang kepada UGM sebagai sebuah kampus kerakyatan,kini telah diubah menjadi sebuah kampus elite yang jauh dari nilai-nilai kerakyatan.
Kitapun bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di kampus kita ini? Benarkah praktek-praktek komersialisasi pendidikan telah nyata terjadi di kampus tertua di Indonesia ini? Kalo permasalahan mengenai biaya kuliah yang makin menggila itu, tentunya merupakan hal klasik yang tidak akan selesai untuk didiskusikan dan ditarik ke akar-akarnya. Coba kita lihat bukti yang lebih kongkret lagi. Karena kini komersialisasi sudah terjadi hampir di segala situs-situs “urgent” yang ada di UGM ini. Faktanya memang demikian adanya, banyak sekali bukti-bukti yang mengindikasikan bahwa UGM ini sedang berada pada jalur menuju kampus kapitalis. Sebagai contoh komersialisasi asrama mahasiswa dan kemunculan hotel UC UGM. Asrama Mahasiswa UGM ini berdiri 1954 dan merupakan asrama tertua di Indonesia yang dulu diresmikan oleh Presiden Soekarno dan Moh.Yamin. Namun kini telah terjadi pergeseran fungsi dan status menjadi “residence” yang berimplikasi pad a naiknya harga sewa dari Rp125.000 hingga ada yang mencapai Rp500.000. perbulan.

Ada lagi yang dialami oleh Afi Yoga Safitri (Ekonomi’05 UGM). Asrama ratnaningsih yang dulunya merupakan asrama bagi mahasiswa yang tidak mampu kini, berubah menjadi asrama umum. Mahasiswa yang ingin kos disini, dulu harus menyertakan surat keterangan tidak mampu, namun kini persyaratan itu dihilangkan. Dampaknya, harga asrama naik, dan mahasiswa yang masuk disana bukanlah mahsiswa yang tidak mampu lagi.
Berbeda dengan asrama darmaputra, menurut Arif Awaludin (Gizi Kesehatan’05 UGM), semenjak manajemen dipindah ke MM UGM, harga asrama menjadi naik bahkan ada yang hingga 400%. Disebutkan bahwa asrama yang bagian utara harga sewanya mencapai 1,5Juta perbulan. Lalu berpindah ke University Center, kini sebelahnya tengah direnovasi Hotel UC UGM. Hotel yang semula untuk kepentingan mahasiswa itu kini disewakan secara umum. Padahal Hotel itu merupakan tanah wakaf yang diamanahkan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Inilah sekelumit bukti bahwa sebagai pewaris, UGM telah mengkebiri nilai-nilai luhur yang telah dirawat, dan dilestarikan oleh nenek moyang.

Adanya “peng-uang-an” beberapa fasilitas kampus inilah yang menyebabkan terhambatnya akses dari mahasiswa-mahasiswa tidak mampu, yang merupakan mahasiswa UGM, sebagai entitas akademis terbesar, yang di masa yang akan datang akan mempunyai andil dalam menentukan pembangunan bangsa dan negara.
Longmarch berakhir di dalam gedung rektorat. Bebrapa perwakilan dari elemen mahasiswa seperti, Wibisono (Ketua KAMMI UGM), Bara (Ketua HMJ), Arya (Kordum Aksi),dll menyampaikan orasinya di depan masa aksi dan rektorat. Aksi ditutup dengan pernyataan sikap dan tuntutan mahasiswa yang tercantum dalam “EMPATI MAHASISWA” yaitu Empat Tuntutan Hati Mahasiswa, antara lain:
1. Mengembalikan biaya asrama Mahasiswa UGM sebelum diterbitkannya pengumuman No.69/GM/UGMR/V/2009 perihal “Permohonan Izin Tinggal”
2. Mengembalikan Hotel UC menjadi wisma yang berpihak kepada rakyat dan mempunyai fungsi akademis
3. Membuka akses seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk menggunakan fasilitas kampus tanpa hambatan finansial
4. Melibatkan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan fasilitas (yang diakses) mahasiswa

Semoga, agenda kecil di hari kamis yang cerah ini, dapat menjadi bahan evaluasi diri kita guna meningkatkan kepedulian kita kepada sesama, kepedulian terhadap segenap isu yang merugikan mahasiswa, ataupun praktek-praktek yang menyebabkan kemunduran bagi mahasiswa. Wallohu rosulu a’lam

Penulis: Fakhara Agam

besar, minus, 180cm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s