ADA APA DENGAN KRISIS KEMANUSIAAN SURIAH?

Posted: Agustus 1, 2012 in Macem macem

Oleh: Tim Medic For Syria BSMI dan PP Pemuda Al Irsyad

Syrian Americans Rally for Freedom

 Gerakan reformasi di Suriah yang bermula pada Maret 2011 di Kota Dar’a wilayah Houran secara perlahan berubah menjadi konflik bersenjata antara pemerintah Suriah dan kelompok oposisi. Konflik yang sudah berwujud perang saudara ini telah menimbulkan dampak yang merugikan warga sipil. Konflik bersenjata tidak hanya menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit, tetapi juga mengancam ketersediaan bahan makanan bagi petani dan peternak subsisten. Kondisi yang tidak kondusif memaksa banyak penduduk Suriah untuk berhenti bekerja, akibatnya kemiskinan dan ancaman kelaparan meningkat.

Sementara itu gempuran tentara Suriah ke basis-basis oposisi seperti di kota Homs, Idlib, Hama, Dar’a, Deir Az Zor, Douma, Zabadani, Latakia telah menyebabkan terputusnya akses komunikasi dan aliran barang ke daerah-daerah tersebut. Kombinasi blokade dan gempuran persenjataan berat oleh militer Suriah ke daerah-daerah tersebut telah menciptakan penderitaan berat bagi penduduk sipil yang terjebak di daerah tersebut. Kota-kota seperti Homs dan Idlib telah berbulan-bulan kekurangan pasokan makanan, dan obat-obatan, sementara akses listrik, air dan komunikasi telah diputus oleh militer Suriah.

Konflik bersenjata di Suriah Sejak Maret 2011 hingga Juni 2012 telah mengakibatkan sebanyak 18.100 jiwa tewas, mayoritas adalah warga sipil.[1] Diantaranya sebanyak 1.372 jiwa merupakan anak-anak berusia dibawah 16 tahun. Sementara lebih dari 15.000 orang lainnya terluka. Akibat kurangnya stok obat-obatan dan peralatan medis, serta blokade militer Suriah terhadap daerah-daerah yang dikuasai oposisi banyak korban luka yang akhirnya meninggal. Sementara itu ratusan korban luka dievakuasi ke negara-negara tetangga. Menurut UNHCR Lebanon Utara hingga maret 2012 telah menerima 268 korban luka dari Suriah.[2] Sementara hingga awal Juni pemerintah Turki mencatat ada sebanyak 213 korban luka dari Suriah yang dievakuasi ke Turki.[3]

Kondisi Ekonomi

Kondisi ekonomi dan stabilitas politik beberapa negara tetangga Suriah juga turut mempengaruhi kondisi para pengungsi. Pada akhir Juli pemerintah Lebanon secara resmi mengeluarkan kebijakan untuk menolak korban luka yang dievakuasi ke Lebanon untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit-rumah sakit yang berada di Lebanon. Hal ini dikarenakan rumah sakit-rumah sakit di Lebanon sudah tidak mampu menampung korban luka yang terus mengalir dari Suriah. Pemerintah Iraq hingga akhir Juli melarang pengungsi asal Suriah yang mencoba mengungsi ke Iraq. Hanya pemerintah otonomi Kurdi di Iraq utara yang mengizinkan pengungsi asal Suriah melintas ke Iraq. Sementara itu korban yang mulai berjatuhan dikalangan pengungsi Iraq yang mengungsi ke Suriah, terutama yang tinggal di Damaskus, akhirnya memaksa pemerintah Iraq untuk mengevakuasi 112.000 warganya yang mengungsi ke Suriah paska agresi militer Amerika Serikat.

Sementara itu pemerintah Yordania melarang ribuan pengungsi asal Iraq dan Palestina yang tinggal di Suriah untuk masuk ke wilayahnya. Hal ini karena pemerintah Yordania takut ekonominya akan mengalami krisis jika terlalu banyak pengungsi yang masuk ke wilayahnya. Hingga akhir Juli setidaknya ada 150.000 pengungsi asal Suriah yang mengungsi ke Yordania. Di samping itu Yordania juga menampung hampir satu juta pengungsi asal Iraq yang mengungsi paska agresi militer Amerika Serikat tahun 2003 silam.

Beberapa bulan sebelum dimulainya konflik di Suriah pada 2010, FAO (Food and Agriculture Organization) mengeluarkan laporan bahwa sebanyak 1,4 juta penduduk Suriah terancam kekurangan pangan sebagai akibat dari rendahnya curah hujan selama 4 tahun terakhir.[4] Mayoritas penduduk yang terancam kekurangan pangan berasal dari daerah-daerah yang kemudian menjadi kawasan konflik. FAO telah mengeluarkan peringatan kemungkinan bertambahnya jumlah penduduk yang teracam kekurangan pangan, terutama di kawasan yang terjadi konflik seperti di Homs, Hama, Idlib, Dar’a dan Rifq Dimasyq. Sementara itu 300.000 petani dan peternak di utara Suriah (Idlib, Aleppo, dan Ar Raqqah) terancam kekurangan pangan karena kekeringan yang sudah melanda sejak 4 tahun terakhir dan kemudian ditambah konflik bersenjata.

FAO bersama dengan WFP (World Food Program) sebelum konflik bersenjata Suriah sudah mengeluarkan peringatan akan adanya krisis kemanusiaan di Suriah karena sulitnya menggalang bantuan untuk penduduk Suriah yang kekurangan pangan. Kondisi rawan pangan ini kemudian diperparah oleh konflik bersenjata yang mengakibatkan akses transportasi bantuan pangan ke daerah-daerah terdampak kekeringan menjadi sangat sulit, bahkan beberapa daerah seperti Homs transportasi terputus sama sekali.

Pengungsi

 Konflik Suriah juga menyebabkan ratusan ribu penduduk sipil mengungsi ke daerah yang lebih aman di dalam Suriah atau ke negara-negara tetangga.  Sementara itu ratusan korban luka akibat konflik baik kalangan sipil maupun oposisi yang berasal dari kawasan yang dikuasai oposisi juga diselundupkan keluar Suriah, terutama ke Lebanon agar dapat mendapatkan perawatan yang layak. Jumlah pengungsi di berbagai negara tetangga Suriah per 28 Juni 2012 adalah

Negara Pengungsi terdaftar oleh UNHCR Dalam proses pendaftaran oleh UNHCR Tidak terdaftar Jumlah
Yordania

31.802

2.644

120.000

154.446

Lebanon

28.477

2.500

6.250

37.227

Iraq

6.547

1.453

7.000

15.000

Turki

37.353[1]

-

-

37.353

Jumlah

104.179

6.597

132.250

243.026

Sumber: Update No 13: Syria Regional Refugee Response Jordan, Lebanon, Iraq, Turkey 24 Juli 2012. UNHCR.


Jumlah pengungsi di negara-negara tetangga Suriah diperkirakan akan terus bertambah. UNHCR menyatakan bahwa rata-rata setiap hari ada 120 pengungsi yang melintas ke Yordania. Sementara di Iraq UNHCR menyatakan rata-rata ada 1.000 pengungsi baru tiap bulannya. jumlah pengungsi di dalam Suriah (Internally displaced persons) menurut Bulan sabit Merah Suriah hingga tanggal 30 Mei mencapai 300.000 jiwa.

Kondisi di atas terjadi sebelum pertempuran Damaskus dan Aleppo terjadi seminggu lalu. Menurut UNHCR paska pertempuran Damaskus dan Aleppo jumlah pengungsi meningkat drastis, diperkirakan lebih dari 1.000 orang tiap harinya melintas perbatasan ke Lebanon. Beberapa kota di propinsi Homs, Hama serta Rifq Dimasyq hampir kosong ditinggal lebih dari 80 persen penduduknya untuk mengungsi.

Selain itu terdapat ratusan ribu pengungsi asal berbagai negara yang saat ini berada di Suriah. Ratusan ribu pengungsi ini sebelumnya mendapatkan bantuan dari pemerintah suriah dan berbagai lembaga kemanusiaan internasional. Namun memburuknya kondisi keamanan di Suriah menyebabkan banyak pengungsi tidak lagi mendapatkan bantuan yang sangat dibutuhkan. Beberapa barak pengungsian bahkan terletak di daerah konflik, seperti kamp pengungsi Palestina di Latakia, Homs dan Zabadani.

Mayoritas adalah pengungsi asal Palestina yang sudah tinggal di Suriah sejak perang 1948 dan pengungsi asal Iraq yang mengungsi paska invasi Amerika Serikat ke Iraq. Berikut adalah jumlah pengungsi dari berbagai negara yang ada di Suriah.

Asal Pengungsi Jumlah
Palestina

475.000

Iraq

112.000

Somalia

2.675

Afghanistan

1.978

Sudan

876

Jumlah

592.529

Sumber: UNHCR Syria Fact Sheet Februari 2012

Di dalam Suriah juga masih ada sekitar 150.000 pekerja migran. Mayoritas berasal dari Indonesia, Philipina, Sri Lanka, dan Ethiopia. BNP2TKI mencatat ada 11.760 TKI asal Indonesia yang saat ini terjebak di Suriah.[6] Berdasarkan laporan BNP2TKI baru sekitar 2.000 TKI yang berhasil keluar dari Suriah. Kondisi keamanan di Damaskus yang semakin buruk mendesak untuk dilakukan evakuasi WNI secara besar-besaran dari Suriah.

Kondisi kemanusiaan di atas, berupa besarnya jumlah pengungsi dan korban luka akibat konfli Suriah mendorong UNHCR mengeluarkan peringatan akan terjadinya krisis kemanusiaan parah. Hal ini dikarenakan besarnya jumlah pengungsi dan korban luka, kekeringan yang melanda Suriah, serta tidak siapnya komunitas bantuan kemanusiaan internasional dalam menanggapi krisis kemanusiaan ini. UNHCR dalam laporannya tertanggal 24 Juli 2012 menyatakan baru 20 persen dana yang dibutuhkan untuk penanganan pengungsi yang telah tersedia. Jika 80 persen dana yang dibutuhkan tidak juga terpenuhi, diperkirakan akan terjadi bencana kelaparan dan konflik sosial di negara-negara tetangga Suriah.

Gambar Kondisi Pengungsi SUriah Di Turki
turki crescent

Sejarah Solidaritas Antara Indonesia dan Suriah

Mungkin banyak diantara kita yang tidak tahu betapa rakyat Indonesia banyak berhutang budi kepada rakyat Suriah. Mungkin banyak juga diantara kita yang lupa bahwa pada 21 Juli 1947 yang bertepatan juga pada saat Ramadhan Belanda melancarkan agresi militer pertamanya ke Indonesia yang baru saja merdeka.

Ketika berita agresi militer Belanda tiba di Suriah, menurut Arab News Agency bahwa pemerintah dan rakyat Suriah segera mengecam tindakan Belanda ini. Bahkan dengan inisiatif rakyat, pada tiap ibadah sholat Jumat selama Ramadhan tahun itu, para khatib Jumat di masjid-masjid di Damaskus, Douma, Aleppo, Latakia, Homs dan Hama menyerukan rakyat Suriah untuk menggalang dana demi membantu perjuangan rakyat Indonesia yang saat itu “memberontak” melawan “pemerintahan Hindia yang sah” yang didukung oleh Kerajaan Belanda.[7]

Tidak hanya itu saja, kemudian kementerian Waqf Suriah menyerukan secara resmi agar doa qunut dibacakan setiap sholat fardhu di tiap2 masjid di penjuru Suriah untuk mendoakan kehancuran bagi Belanda dan kemenangan bagi rakyat Indonesia. Tiap selesai sholat Jumat warga Suriah selain mengumpulkan dana juga kemudian menyelenggarakan sholat ghoib untuk para syuhada di Indonesia.

Dana yang dikumpulkan di tiap-tiap Masjid tersebut kemudian disalurkan melalui perwakilan Indonesia di Suriah untuk kemudian dibelikan obat-obatan, pakaian maupun persenjataan untuk mendukung perang gerilya yang dilancarkan rakyat Indonesia.

Pada 6 September 1947 Bulan Sabit Merah Mesir bersama dengan Bulan Sabit Merah Suriah mengirimkan misi kemanusiaan yang terdiri dari 3 dokter. Bulan Sabit Merah Mesir dan Bulan Sabit Merah Suriah juga mengirimkan bantuan berupa 2 ton obat-obatan serta beberapa ton pakaian. Misi kemanusiaan Mesir-Suriah ini bertugas di Bukittinggi Sumatera Barat selama 4 bulan, di tengah-tengah gempuran militer Belanda terhadap rakyat Indonesia.[8]

Tidak berhenti sampai situ saja, ketika pada 19 Desember 1948 Belanda kembali melancarkan agresi militernya yang kedua, bahkan hingga berhasil merebut ibukota Yogyakarta, Rakyat Suriah adalah yang pertama kali mengecam dan menyeru untuk membantu saudara-saudaranya di Indonesia. ketika negara-negara lain bimbang mengenai status Indonesia yang saat itu tampak “berhasil dikalahkan” Belanda, Rakyat Suriah justru berdemo menuntut pemerintah Suriah untuk menutup bandara-bandara di Damaskus dan Di Aleppo agar tidak digunakan pesawat-pesawat Belanda untuk transit dalam perjalanan mengangkut amunisi dan tentara menuju Indonesia. Mendengar kabar penderitaan rakyat Indonesia, kembali para Imam masjid di seluruh Suriah membacakan qunut nazilah. Setiap sholat jumat para khotib juga kembali menyeru rakyat Suriah untuk menggalang dana untuk membeantu perjuangan rakyat Indonesia, dan kemudian melakukan sholat ghoib setelah selesai sholat jumat.

22 Maret 1949 akibat tekanan rakyat Suriah, pada akhirnya pemerintah Suriah secara resmi memutus kerjasama dengan KLM (maskapai penerbangan Belanda) dan melarang seluruh pesawat Belanda, baik sipil maupun militer untuk transit diseluruh bandara di Suriah. tindakan yang sama juga dilakukan oleh Pemerintah Iraq.[9]

Rakyat Indonesia dan rakyat Suriah terikat oleh sejarah solidaritas tersebut. sekarang saat rakyat Suriah memperjuangkan kebebasannya, adalah saat yang tepat bagi kita rakyat Indonesia untuk membalas kebaikan rakyat Suriah. Jangan sampai kita seperti kata pepatah kacang lupa kulitnya. ketika kita dalam keadaan susah, kita mengemis meminta solidaritas rakyat Suriah, namun ketika rakyat Suriah kesusahan kita enggan menunjukkan solidaritas kita.

Bung Hatta seusai menghadiri KMB di Den Haag Belanda, ketika transit di Kairo mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada rakyat Mesir, Suriah, Iraq dan segenap anggota Liga Arab atas dukungan semenjak proklamasi. Sokongan negara-negara Arab yang tiada henti-hentinya terhadap perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kedaulatannya -yang telah juga diakui secara de facto dan de jure oleh negara-negara Arab sebelum satupun negara di dunia ini mengakuinya- telah membantu bangsa Indonesia dalam mempertahankan kedaulatannya dari agresi Belanda[10]

Oleh karena itu, dari Yogyakarta, Ibukota revolusi ayo kita serukan dan semarakkan semangat Solidaritas Suriah, sebagaimana dulu ketika Yogyakarta digempur Belanda, Damaskus semarak akan solidaritas untuk Indonesia.

[1] http://syrianshuhada.com

[2] http://www.unhcr.org/4f5f48156.html

[3] http://www.afetacil.gov.tr/Ingilizce_Site/index.html

[4] http://www.fao.org/news/story/en/item/128905/icode/

[5] Data Pemerintah Turki, http://www.afetacil.gov.tr/Ingilizce_Site/index.html

[6] http://www.thejakartaglobe.com/lawandorder/poor-data-puts-indonesian-migrant-workers-in-syria-at-risk/523587

[7] M. Zein Hassan Lc. Lt. 1980. Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri: Perjoangan Pemuda/Mahasiswa Indonesia di Timur Tengah. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang. Hlm 239.

[8] Ibid, hlm 252.

[9] Ibid, hlm 247.

[10] Ibid, hlm 249.

Komentar
  1. heyfajrul mengatakan:

    makasih share ilmu nya bang. izin copas ya :)

  2. din waikabu mengatakan:

    makasi ya ,, ijin kopas ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s